21 December, 2009

Kamu flase Umat Kristiani di Indonesia

Dalam beberapa hari ke depan, umat Kristiani akan merayakan hari raya mereka, yaitu hari raya Natal. Di Indonesia, agama yang dibawa ke tanah air oleh kaum kolonialis ini merupakan minoritas. Namun, mereka merupakan minoritas yang cukup besar pengaruhnya. Selain itu, upaya mereka yang sangat gigih dalam melakukan aksi misionaris terhadap umat Islam telah meningkatkan jumlah populasi mereka dari tahun ke tahun.

Tulisan ini ingin membahas salah satu aspek dari strategi umat Kristiani di Indonesia dalam upaya mereka mempengaruhi umat Islam. Tapi biarlah kami memulainya dengan sebuah cerita dari negeri tetangga.

Beberapa waktu yang lalu Malaysia sempat diramaikan oleh perdebatan tentang penggunaan kata ‘Allah’ di dalam Alkitab berbahasa Melayu. Kaum Muslimin, melalui beberapa tokohnya, mengkritik penggunaan kata ini oleh kalangan Kristiani. Penolakan ini disebabkan beberapa hal, antara lain karena kata ’Allah’ bukan merupakan terjemahan kata ’God’ yang digunakan oleh Bible berbahasa Inggris. Istilah Melayu untuk kata ’God’ adalah ’Tuhan.’

Jadi mengapa umat Kristiani begitu ngotot ingin menggunakan kata ’Allah,’ dan bukannya kata ’Tuhan’ di dalam Alkitab yang mereka gunakan?

Persoalan ini kembali ditanyakan oleh seorang peserta yang menghadiri kajian tentang worldview of Islam yang dibawakan oleh Prof. Naquib al-Attas di Kuala Lumpur hari Ahad malam, 13 Desember 2009. Saat ditanya pendapatnya tentang penggunaan kata ’Allah’ oleh umat Kristiani di Malaysia, Prof. Naquib dengan tegas mengatakan bahwa ia sudah menyikapi persoalan ini sejak beberapa tahun yang lalu. Ketika mendengar keinginan pendeta-pendeta Kristen di Malaysia untuk menggunakan kata ’Allah’ dalam Alkitab, maka beliau mengundang para pemimpin Kristiani dan petinggi negara untuk berdialog di lembaga yang beliau pimpin ketika itu, yaitu ISTAC.

Beliau bertanya kepada tokoh-tokoh Kristen tersebut mengapa mereka ingin menggunakan kata ’Allah.’ ”Karena kami ingin berdoa dalam bahasa Melayu,” jawab mereka. ”Tapi kata Melayu yang tepat untuk istilah God dalam Alkitab adalah istilah Tuhan,” sanggah Prof. Naquib. ”Selain itu,” lanjutnya, ”kata ’Allah’ bukan merupakan bahasa Melayu. It comes from a tradition that not belongs to you.”

Setelah menegaskan bahwa mereka seharusnya menggunakan kata ’Tuhan,’ Prof. Naquib menjelaskan bahwa kata itu pun pada akhirnya akan mengacu pada Allah. Karena Allah adalah Rabbul ‘Alamin, Tuhan alam semesta. Tidak ada yang bisa menghindar dari-Nya. Tapi kata ‘Allah’ tidak dapat dipergunakan oleh umat Kristiani karena mereka tidak menyifati-Nya sebagaimana mestinya. Allah tidak memiliki anak dan Dia tidak diperanakkan.

Jadi bagaimana mungkin umat Kristiani hendak menggunakan nama Allah tapi pada saat yang sama mengatakan bahwa Dia mempunyai anak, atau mengatakan bahwa Dia merupakan salah satu dari tiga oknum dalam trinitas? Ini sebabnya mengapa nama Allah tidak semestinya digunakan di dalam Alkitab.

Prof. Naquib mengkritik sikap pemerintah Malaysia yang sempat memutuskan untuk membawa persoalan tersebut untuk diputuskan di dalam Mahkamah. Ini bukan urusan mahkamah, ini merupakan urusan umat Islam, karena nama Allah berasal dari tradisi mereka. Jadi apa hak mahkamah untuk membuat keputusan dalam persoalan ini?

Prof. Naquib tidak menjelaskan lebih jauh bagaimana perkembangan persoalan tersebut lebih jauh di Malaysia, apakah orang-orang Kristen di sana tetap bersikukuh memaksakan keinginannya atau tidak. Bagaimanapun, hal ini membuat kami berpikir jauh tentang keadaan di tanah air. Betapa kaum Muslimin di Indonesia telah berkali-kali ‘kecolongan’ dalam persoalan ini.

Bukan hanya dalam penggunaan kata ‘Allah’ di dalam Alkitab, tetapi juga penggunaan berbagai istilah Islam oleh komunitas Kristiani di tanah air. Penulis cukup banyak mengetahui persoalan ini karena penulis sendiri selama lebih dari sepuluh tahun menjalani pendidikan di sekolah-sekolah Kristen dan banyak anggota keluarga penulis yang juga mengalami hal yang sama.

Kami menulis ini dengan sedikit rasa penyesalan mengapa tidak menulis persoalan ini lebih awal. Penyesalan menjadi bertambah besar karena heran melihat nyaris tidak adanya para ulama di Indonesia yang memiliki sikap tegas terkait dengan persoalan ini.

Kalangan Kristen di Indonesia sejak lama telah menggunakan kata ’Allah’ di dalam Alkitab mereka. Kata ini masuk dan menjadi mapan di dalam agama Kristen tanpa ada tantangan sama sekali dari kaum Muslimin. Mereka biasa menyebut ’Tuhan Allah’ di dalam doa-doa mereka. Hanya saja cari penyebutan mereka terhadap kata ini berbeda dengan kaum Muslimin. Mereka membacanya dengan bunyi ’Alah’, bukan sebagaimana lafadz yang digunakan dalam bahasa Arab.

Namun umat Kristiani di Indonesia tidak berhenti sampai di situ. Mereka juga menggunakan kata ’syafaat’ dalam tradisi mereka. Lima belas atau dua puluh tahun yang lalu, penulis sempat kaget saat melewati sebuah gereja di Kwitang menjelang perayaan Natal. Di sana terbentang sebuah spanduk dengan berisi ajakan merayakan hari Natal ‘dalam rangka mendapatkan syafaat ...’. Apa yang mereka maksud dengan syafaat? Mereka jelas tidak mengambil istilah ini dari bahasa Yunani, Latin, ataupun bahasa Aramaic. Ini jelas bersumber dari bahasa Arab dan dari tradisi Islam.

Lalu atas tujuan apa mereka tiba-tiba menggunakan kata ini? Apakah karena mereka mengetahui bahwa kata ini memiliki posisi yang sangat penting di kalangan sebagian besar umat Islam Indonesia? Apakah dengan menggunakan kalimat ini mereka bermaksud mengecoh kaum Muslimin yang tidak mendalam ilmu agamanya dan hendak mengeksploitasi harapan mereka yang tinggi untuk mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam dengan mengatakan bahwa Yesus juga memiliki syafaat?

Umat Kristiani di Indonesia juga menggunakan kata syahadat. Di sekolah-sekolah Kristen, setidaknya sebagiannya, murid-murid diajarkan doa syahadat. Belakangan ini kami juga mendapat informasi bahwa beberapa kalangan Kristen meniru kebiasan kaum Muslimin dalam mengucapkan insya Allah. Tapi bukannya mengucapkan kalimat yang sama, mereka mengubahnya menjadi insya Yesus. Apa sebenarnya yang diinginkan umat Kristiani Indonesia dengan semua ini?

Apakah mereka sudah tidak memiliki identitas yang jelas sampai kemudian tanpa rasa malu mengambil dari tradisi Islam? Apakah mereka sudah mengalami kebangkrutan sehingga terpaksa comot sana comot sini dan memakai milik orang lain – tanpa minta izin pula?

Selain hal di atas, ada persoalan lain dari penggunaan bahasa di Indonesia yang perlu dikaji ulang. Selama bertahun-tahun, ejaan bahasa Indonesia telah mengalami perubahan yang semakin menjauhkannya dari bahasa Arab dan Islam. Dulu kita menyebut ’ilmu hayat,’ kini kita menamainya ’ilmu biologi.’ Dulu kita menggunakan istilah ‘izin,’ kini ‘ijin’; dulu ‘alfabet’ kini ‘alpabet.’

Semua kata yang berasal dari bahasa Arab atau yang berbunyi ke-arab-araban dijauhkan dan diberi bunyi yang berbeda. Seorang kawan kami mengistilahkan ini sebagai ‘Krsitenisasi bahasa.’ Mungkin ini sebuah istilah yang berlebihan. Namun sama sekali tidak salah jika ini disebut sebagai ‘de-Islamisasi bahasa.’

Ustadz Rahmad Abdullah, almarhum, dengan sangat jeli mengamati digunakannya kata-kata tertentu yang bersumber dari Islam ke dalam bahasa sehari-hari, tapi dengan diberi konotasi negatif. Misalnya saja kalimat semisal ’gajinya telah disunat.’ Kata ’disunat dalam kalimat tersebut maksudnya jelas, yaitu dipotong secara semena-mena, atau dengan kata lain dikorupsi. Mengapa sebuah istilah yang mulia dalam Islam, yaitu sunat atau khitan, bisa digunakan dengan konotasi begitu buruk dalam bahasa Indonesia?

Kita juga sering mendengar istilah ’nafasnya senin-kamis’ yang mengacu pada kelemahan dan tidak adanya kekuatan. Mengapa menggunakan istilah senin-kamis? Semua orang tahu kalau hari Senin dan Kamis adalah hari disunahkannya kaum Muslimin berpuasa. Apa tujuan digunakannya kata-kata ini di dalam bahasa sehari-hari?

Ada banyak contoh-contoh lain di samping yang telah kami sebutkan di atas. Penulis memang tidak memiliki bukti untuk mengatakan bahwa contoh-contoh yang terakhir ini dilakukan oleh pihak Kristen. Yang jelas, kesalahan ada pada kaum Muslimin Indonesia sendiri karena mereka telah lalai dari hal ini. Karena itu, kaum Muslimin, khususnya para wartawan, jurnalis, dan penulis Muslim, perlu meneliti ulang dan membongkar kembali penggunaan istilah-istilah tertentu yang tidak pantas. Kaum Muslimin perlu menyusun ulang strategi bahasa mereka.

Kami ingin kembali pada upaya kalangan Kristiani yang dapat dilihat secara langsung wujudnya. Selain yang telah disebutkan pada bagian awal tulisan ini, kita masih menemukan berbagai hal yang mereka lakukan. Kini mereka bukan hanya mengambil istilah ‘Allah’ dan beberapa istilah kunci lainnya, mereka juga menggunakan istilah tilawatil Injil dan membuat kaligrafi bahasa Arab dengan muatan nilai-nilai Kristen.

Mereka juga dengan bangga menyiarkan komunitas orang-orang Betawi yang telah masuk Kristen lengkap dengan pakaian tradisional mereka: sarung, baju koko, dan peci untuk yang pria, dan kebaya serta kerudung untuk yang wanita. Sebaiknya umat Islam bersiap-siap. Mungkin tidak lama lagi mereka akan mulai membaca ‘tahlil’ dan merayakan ‘maulid.’ Naudzu billahi min dzalik.

Hal ini membuat kami bertanya, apakah mereka sudah tidak merasa sungkan lagi melakukan kamuflase secara terang-terangan? Selain itu kami juga ingin bertanya, apakah umat Kristiani di Indonesia sama sekali sudah tidak menghargai orisinalitas dalam agama mereka sendiri? Apakah mereka sudah tidak memiliki harga diri sehingga menempuh cara-cara semacam ini dalam beragama?

Sebetulnya praktek-praktek semacam ini sama sekali bukan hal yang baru dalam agama Kristen sejak era Paulus (Saul of Tarsus). Paulus-lah yang telah mengalihkan ajaran yang dibawa Yesus kepada orang-orang Romawi, walaupun sesungguhnya Yesus (Nabi Isa) mengkhususkan ajarannya kepada orang-orang Yahudi saja. Sejak itu agama Kristen mengadopsi berbagai kebiasaan dan tradisi masyarakat pagan agar agama yang mereka bawa ini bisa diterima oleh mereka, walaupun konsekuensinya adalah hilangnya orisinalitas, identitas, dan karakter asal agama mereka.

Sejak itulah penganut Kristiani membolehkan orang tidak bersunat, padahal Alkitab sendiri menjelaskan betapa Yesus (Nabi Isa) tidak menyukai orang-orang yang tidak bersunat. Mereka menjadikan hari-hari suci kaum pagan sebagai hari suci mereka, antara lain tanggal 25 Desember (hari Natal) dan hari Minggu (Sunday atau harinya Matahari). Mereka juga mengalihkan pemujaan kaum pagan terhadap patung-patung dewa-dewi menjadi pemujaan terhadap patung-patung salib, Yesus, dan Bunda Maria. Jadi tidak heran jika hal itu kini juga dilakukan di Indonesia.

Kami tidak mengangkat persoalan ini dengan maksud supaya para pembaca dan kaum Muslimin secara umum menjadi marah dan bersikap emosional, atau mengamuk dan menimpakan sesuatu yang buruk kepada umat Kristiani. Karena bukan seperti itu tuntunan Islam. Tapi kita, khususnya para ulama, perlu mengkaji ulang persoalan ini secara mendalam. Kita perlu mengangkat persoalan ini ke permukaan, menanyakan langsung kepada tokoh-tokoh Kristiani apa yang menjadi tujuan mereka dengan melakukan ini semua.

Kita perlu menegaskan kepada mereka bahwa mereka tidak berhak dan tidak sepatutnya mengambil apa-apa yang berasal dari tradisi Islam.

Barangkali bagi umat Kristiani orisinalitas dan identitas sama sekali tidak penting, tapi kita mesti menjelaskan bahwa bagi kaum Muslimin keduanya sangat penting. Kalaupun umat Kristiani telah jatuh miskin dan bangkrut sehingga kehilangan perbendaharaan dari tradisi mereka sendiri dan karenanya ingin mengambil dari tradisi lain, maka silahkan mereka mengambilnya dari tradisi selain Islam. Silahkan mereka meminjamnya dari Hindu, dari Budha, dari Yahudi, atau dari tradisi agama lainnya (itupun kalau masing-masing agama itu mengijinkan).

Tapi jangan mengambil dari tradisi Islam. Hal ini bukan karena kaum Muslimin pelit atau bakhil. Tetapi karena pada setiap perbendaharaan tradisi itu ada hak dan posisinya sendiri yang telah diatur di dalam Islam. Ketika istilah-istilah tersebut diambil dan dimasukkan dalam kerangka ajaran Kristen, maka posisinya telah menjadi jauh berubah dan hak yang dimilikinya telah tercerabut dari nilai yang sesungguhnya. Dan ini merupakan suatu kezaliman. Dalam Islam, sesuatu yang tidak ditempatkan sebagaimana mestinya merupakan suatu kezaliman. Semakin besar kesenjangannya, maka semakin besar juga kezalimannya.

Biar kami pertegas lagi persoalannya supaya lebih jelas. Umat Kristiani menggunakan kata ’Allah’ di dalam Alkitab. Ini merupakan kata yang sepenuhnya bersumber dari tradisi Islam dan sama sekali tidak ada dalam tradisi Kristen. Dalam ajaran Islam, Allah itu Esa. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tapi kata ’Allah’ dimasukkan ke dalam Alkitab dan pada saat yang sama dijelaskan bahwa ’Allah’ mempunyai anak atau ’Allah’ merupakan salah satu dari tiga oknum pada trinitas. Ini merupakan sebuah penistaan dan kezaliman yang besar.

Dalam Islam syahadat merupakan sebuah kesaksian dengan formulasi utama berupa kesaksian bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan kesaksian bahwa Nabi Muhammad merupakan utusan Allah. Tetapi umat Kristiani tidak mengakui Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam sebagai utusan Allah. Jadi bagaimana mereka hendak begitu saja meminjam istilah syahadat sambil melucuti maknanya. Ini adalah sebuah kezaliman.

Demikian juga dengan istilah syafaat. Dalam Islam, syafaat diberikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam dan bukan oleh nabi-nabi yang lain, termasuk Nabi Isa ’alaihis salam. Apakah kalangan Kristen hendak mengambil kata ini sambil menyuruh manusia mengharapkan syafaat dari Yesus? Ini juga merupakan sebuah kezaliman.

Sekiranya mau menggunakan perbendaharaan kaum Muslimin boleh saja asalkan siap untuk menerima dengan segala pemaknaan serta keyakinan yang ada di dalamnya. Kalau tidak demikian maka janganlah mengambil sama sekali. Kalau umat Kristiani mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui persoalan ini, maka kini kita telah memberitahukannya, dan karenanya mereka harus mengembalikan kepada umat Islam dan segera kembali pada konsep-konsep dan terminologi mereka sendiri.

Kalau mereka melakukan dengan sengaja dengan tujuan untuk mengacaukan identitas kaum Muslimin dan dengan tujuan menciptakan kebingungan di tengah-tengah mereka, maka ini adalah sebuah kejahatan yang mesti dihentikan.

Tapi yang terpenting dari itu semua adalah kita mesti mendidik generasi kaum Muslimin supaya mereka memiliki pemahaman yang baik terhadap Islam dan supaya mereka memiliki ilmu agama yang memadai. Sekiranya kaum Muslimin memiliki ilmu yang cukup baik, maka mereka tidak akan mudah terkecoh dengan taktik dan kamuflase yang dilakukan oleh orang-orang diluar kelompok mereka.

Para dai dan ulama Islam perlu memberikan pendidikan lebih luas kepada kaum Muslimin, khususnya yang berada di pedesaan, serta mengangkat perekonomian mereka, supaya mereka tidak mudah terpedaya dengan bujuk rayu pihak lain. Ini merupakan sebuah tugas yang amat mendesak bagi kita semua. Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan kepada kaum Muslimin dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang belum memahami kebenaran.

Kuala Lumpur, 14 Desember 2009

Alwi Alatas, Mahasiswa PhD International Islamic University Malaysia (IIUM) dan penulis buku

Labels:

25 November, 2009

Detik - Detik kemerdekaan Palestina ...

PERSEMBAHAN RAKYAT INDONESIA UNTUK KE- MERDEKAAN PALESTINA "SAVE PALESTINE!!!" ALLAHUAKBAR

Gemuruh demonstrasi terus semarak di setiap sudut di negeri ini. Demonstrasi yang bukan sebatas lokal-nasional, namun berskala global. Sebuah demonstrasi untuk menyuarakan adanya penindasan di wilayah Jalur Gaza yang sejatinya juga penindasan di tanah Palestina. Demonstrasi untuk menentang kezaliman sebuah entitas yang mendirikan negara di atas tangis pilu dan kematian beratus-ratus nyawa. Di negeri jauh itu telah nyata adanya penjajahan. Di negeri ini, demonstrasi ingin membebaskan negeri jauh itu untuk akhirnya menggenggam kemerdekaan.

Demonstrasi di negeri ini adalah kesatuan dari jiwa seluruh penghuni bumi. Hampir mayoritas di negeri manapun, demonstrasi menggelegar dan bersuara: Palestina merdeka sesaat lagi. Jika kini pesawat tempur dan tank Israel membombardir wilayah Jalur Gaza, itu hanyalah detik-detik kekalahan negeri Zionis yang telah menindas rakyat Palestina bertahun-tahun. Israel pastilah akan remuk redam di tengah keberadaban zaman. Jika mau dikata, perilaku Israel adalah perilaku primitif yang memalukan dalam panggung sejarah. Negeri yang membanggakan kekuatan senjata militer untuk dipertontonkan di tanah Palestina itu sepertinya perlu belajar menghargai manusia lainnya.

Kini tak ada lagi yang tersembunyi. Yang benar telah tampak di permukaan, yang salah akan tenggelam. Dunia bukanlah hegemoni satu negara, tapi sebuah tatanan yang berkeadilan untuk menjamin hidup setiap bangsa. Ketika kemerdekaan Palestina dinantikan, sejatinya tak perlu memakan waktu lama. Keadilan dan kebenaran harus berani tampil di muka berhadapan dengan kezaliman dalam beragam bentuk entitasnya. Berani melawan Israel dan juga AS jika memang kedua negara itu memperlihatkan kezaliman. Palestina tentu saja berhak merdeka dan alangkah naifnya jika kita tak selekas mungkin mewu- judkannya.

Namun, tak ada lagi harapan ketika fakta sejarah justru menampakkan ketidakberdayaan. Kini kita memang menentang penindasan Israel atas Palestina, tapi esok hari telah lupa dari ingatan. Ketika Israel melakukan penyerangan lagi di tanah Palestina, kita pun disadarkan kembali. Sungguh penderitaan rakyat Palestina adalah penderitaan yang panjang, tapi dunia masih mendiamkan ketidakmerdekaan Palestina bertahun-tahun lamanya. Apakah tragedi di Jalur Gaza akan terlupa? Di negeri jauh itu ada penjajahan dan penindasan bertahun-tahun lamanya. Dunia tentu saja tak layak membiarkannya. Saatnya menjemput takdir kemerdekaan tanah yang ditaklukkan Zionis Israel: Palestina!


Labels:

24 November, 2009

17 Amalan penghapus dosa


----------------------
17 Amal Penghapus Dosa
----------------------

Manusia pasti berbuat dosa dan pasti butuh amounan Allah. Oleh karena itu Allah memberikan keutamaan dan kemurahan kepada hamba-Nya dengan mensyariatkan amalan-amalan yang dapat menghapus dosa disamping taubat. Sebagiannya (amalan ini) dijelaskan dalam AlQur'an dan sebagiannya lagi dalam sunnah Rasulullah saw. Diantaranya sebagai berikut :

1. Menyempurnakan wudhu dan berjalan ke mesjid, sebagaimana disampaikan Rasulullah saw., "Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat. Mereka menjawab: ya, wahai Rasulullah. Beliau berkata: sempurnakan wudhu ketika masa sulit dan memperbanyak langkah ke mesjid serta menunggu shalat satu ke shalat yang lain, karena hal itu adalah ribath." (Riwayat Muslim dan At-Tirmidzi)

Juga dalam sabda beliau yang lain:
"Jika seseorang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian berangkat shalat dengan niat hanya untuk shalat, maka tidak melangkah satu langkah kecuali Allah angkat satu derajat dan hapus satu dosa." (Riwayat At-Tirmidzi)

2. Puasa hari Arafah dan Asy Syura, hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah, "Puasa hari Arafah saya berharap dari Allah untuk menghapus (dosa selama) setahun yang sebelumnya dan setahun setelahnya dan Puasa hari Asy Syura saya berharap dari Allah menghapus setahun yang lalu." (Riwayat At-Tirmidzi)

3. Shalat tarawih di bulan Ramadhan dengan dalil sabda Rasulullah, "Barangsiapa menegakkan Ramadhan (shalat tarawih) dengan iman dan mengharap pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu." (Muttafaqun 'Alaihi)

4. Haji yang mabrur
"Barangsiapa yang berhaji lalu tidak berkata keji dan berbuat kefasikan (kejelekan) maka ia kembali seperti hari ibunya melahirkannya." (Riwayat Al-Bukhari). Kemudian dalam sabda beliau dinyatakan, "Haji mabrur balasannya adalah surga." (Riwayat Ahmad)

5. Memaafkan hutang orang yang sulit membayarnya

6. Melakukan kebaikan setelah berbuat dosa dengan dalil:
"Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan yang menghapusnya dan pergauli manusia dengan etika yang mulia." (Riwayat At-Tirmidzi dan Ahmad)

7. Memberi salam dan berkata baik dengan dalil sabda Rasulullah, "Sesungguhnya termasuk sebab mendapatkan ampunan adalah memberikan salam dan berkata baik." (Riwayat Al-Kharaithi dalam Makarim al Akhlak)

8. Sabar atas musibah dengan dalil sabda Rasulullah, "Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman, "Sesunguhnya apabila Aku meguji seorang hamba-Ku yang mukmin, lalu ia memuji-Ku atas ujian yang Aku timpakan kepada-Nya, maka ia bangkit dari tempat tidurnya (dalam keadaan) bersih dari dosa seperti hari ibunya melahirkannya."" (Riwayat Ahmad)

9. Menjaga shalat lima waktu dan Jum'at serta puasa Ramadhan dengan dalil sabda Rasulullah, "Shalat lima waktu dan jum'at ke jum'at dan ramadhan ke ramadhan adalah penghapus dosa diantara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi." (Riwayat Muslim)

10. Adzan dengan dalil sabda Rasulullah, "Sesungguhnya seorang Muadzin akan diampuni dosanya sepanjang (gema) suaranya." (Riwayat Ahmad)

11. Melakukan shalat, dengan dalil sabda Rasulullah, "Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di pintu yang digunakan untuk mandi setiap hari lima kali, apa yang kalian katakan apakah tersisa kotorannya? Mereka menjawab, "Tidak ada sisa kotorannya sedikitpun.""
Beliau bersabda, "Shalat lima waktu menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosa." (Riwayat Al-Bukhari)

12. Memperbanyak sujud dengan dalil sabda Rasulullah, "Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu sekali sujud kepada-Nya melainkan Dia mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu kesalahanmu (dosa) darimu." (Riwayat Muslim)

13. Mengerjakan shalat malam. Rasulullah bersabda, "Hendaklah kalian shalat malam, karena ia adalah adat orang yang shalih sebelum kalian dan amalan yang mendekatkan diri kepada Rabb kalian serta penghapus kesalahan dan mencegah dosa-dosa." (Riwayat Al-Hakim)

14. Berjihad di jalan Allah.
"Akan diampuni tiap dosa orang yang mati syahid kecuali utang." (Riwayat Muslim)

15. Mengiringi haji dengan umrah. Rasulullah pernah mengatakan, "Iringi antara haji dengan umrah, karena pengiringan antara keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana Al Kier (alat pembakar besi) menghilangkan karat besi." (Riwayat Ibnu Majah)

16. Shaadaqah dengan dalil, "Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan pada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah : 271)

Rasulullah pun bersabda, "Shadaqah menghapus dosa seperti air memadamkan api." (Riwayat Ahmad, At-Tirmidzi dan selainnya)

17. Menegakkan hukum pidana dengan adil, "Siapa saja yang melanggar larangan Allah kemudian ditegakkan padanya hukum pidana maka dihapus dosa tersebut." (Riwayat Al-Hakim)

Demikian sebagian penghapus dosa, mudah-mudahan penjelasan bermanfaat.



Labels:

Menagislah...


===========================================
sumber: http://www.aldakwah.org
===========================================

Menangislah Agar Selamat!

"Seorang yang menangis karena takut kepada Allah tidak akan masuk neraka sekalipun air susu kembali masuk kekantong kelenjarnya (perumpamaan untuk sesuatu yang tidak mungkin terjadi, artinya dia pasti dibebaskan dari neraka)", Hadist sahih ini dari Abu hurairah diriwayatkan oleh Nasaa'i dan al-tirmidzi.


Menangis, kadang sulit dilakukan, walaupun sejak lahir manusia sudah terbiasa menangis. Sulit dilakukan saat dalam lapang dan bahagia. Ketika ada bencana, ujian, musibah, baru mata setetes demi setetes mengalirkan air mata, yang kadang entah untuk apa? dan tanpa makna.

Pernahkah kita menitikkan air mata saat terlintas siksaan Allah? azabnya yang begitu pedih, neraka yang menyala-nyala?, mungkin tidak, atau jarang sekali. Padahal "Mata yang menangis ditengah keheningan malam karena takut kepada Allah, tidak akan tersentuh api neraka", begitu sabda Rasulullah saw dalam hadist hasan riwayat Al-Tirmidzi.

Dalam Hadist mauquf (sanadnya hanya sampai kepada sahabat) Disebutkan: "Tidak ada seorang hamba mukminpun yang meneteskan air matanya karena takut kepada Allah, meskipun butiran air mata tersebut sebesar kepala lalat dan air mata itu menetes disalah satu bagian wajahnya, kecuali Allah mengharamkannya masuk neraka."

"Wahai saudaraku-saudaraku sekalian, tidakkah kalian menangis karena rindu kepada Allah. Bukankah sesungguhnya orang yang menangis karena takut kepada neraka akan dilindungi Allah dari neraka tersebut? Demikian nasehat Abdul Wahid bin Zaid.

Benar, menangis bisa menyelamatkan kita dari jilatan api neraka. Didalam hadist Abdurrahman bin Samurah, Nabi saw, bersabda: "Suatu malam aku bermimpi, "kemudian Nabi menyebutkan hadist dengan redaksi yang sangat panjang. salah satu isinya adalah sabda beliau: "Aku telah melihat seorang laki-laki dari umatku dipinggir neraka jahannam, kemudian dia dihampiri oleh rasa takut (yang dia miliki) kepada Allah. Amal itu (rasa takut kepada Allah) akhirnya menyelamatkannya dia dari api neraka Jahannam. Dan Aku Melihat ada seorang lelaki dari umatku terjatuh kedalam neraka. Akan tetapi dia didatangi oleh tetesan air matanya (yang menetes) karena takut kepada Allah. Maka air mata itupun mengeluarkan dia dari api neraka."

Karenanya jangan sia-siakan airmata hanya untuk menangisi sesuatu yang tak abadi, menangislah karena takut akan siksaan dan azab Allah swt, jauhilah kemaksiatan, mohonkan ampunan kepada Allah. Tetesan air mata yang mengalir sekarang akan menjadi embun penyejuk pada hari perhitungan kelak, maka menangislah saudaraku, agar selamat..!



Labels:

7 Dosa Besar Remaja


==================================================
Sumber: (pakwi/majalah Elfata edisi volume 6 2006)
==================================================
Tujuh dosa besar remaja

Diantara sekian banyak dosa, selalu ada beberapa dosa yang khas merupakan cap kalangan tertentu. Karena kita remaja tentunya kita membahas dosa-dosa yang berkaitan dengan diri kita. Bukan untuk kamu lakukan tapi tentu saja untuk kita tinggalkan bersama.

-Pacaran

Namanya udah puber dan memang fitrahnya seneng sama lawan jenis, yang namanya cinta selalu menjadi atribut mengasyikkan bagi kehidupan remaja. Saat diri sendiri merasa tidak dipahami orang lain, yang namanya lawan jenis selalu menjadi tempat asyik untuk curhat. Jadilah sepasang lain jenis berpacaran.

Bukannya asyik, pacaran malah full ancaman. Allah memerintahkan menahan pandangan dari lawan jenis, orang pacaran malah salng pandang. Jadinya nggak patuh sama Allah, kan? Belum masalah sentuh-menyentuh, yang kata Nabi SAW lebih baik kepala ditusuk paku besi daripada menyentuh wanita non-mahram. Kalo menyentuh dah boleh-boleh saja, gimana gak meningkat ke yang lebih ngeri? Kalo sudah begini, siapa yang rugi? Kalo tidak tobat, bisa saja rugi akhirat. Kalo sampai zina beneran, tentu juga rugi dunia.

-Pornografi

Rasa ingin tahu ditambah besarnya gairah syahwat pada masa remaja membuat banyak remaja (terutama laki-laki) terperosok ke dalam maksiat satu ini. Banyak media yang memuat pornografi. Mulai dari poster, majalah, buku, sampai VCD. Bahkan majalah Playboy yang sudah mahsyur kepornoannya pun mau masuk ke Indonesia setelah majalah porno lainnya eksis di negeri ini.

Menahan pandangan dari lawan jenis termasuk juga nggak lihat hal-hal yang porno semacam ini. Pornografi juga memancing kejahatan seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan. Berapa banyak kasus perkosaan berwal dari nonton VCD porno.

Alhamdulillah, nilai-nilai syariat islam sudah mulai ditegakkan di negeri kita. Setelah Undang-Undang Anti Pornografi dan pornoaksi disahkan, kita nggak aman dari tuntutan dunia dalam masalah ini. Kalo ketahuan lihat atau bawa barang-barang berbau porno, kamu bisa dipenjara atau kena denda. Selain itu kamu masih harus menghadapi tuntutan hukuman akherat klo nggak tobat.

-Onani Masturbasi

Maksiat yang satu ini juga terkenal banget dilakukan oleh para remaja. Sebabnya rata-rata sama, ingin tahu dan besarnya nafsu seksual pada masa remaja. Menurut penelitian, aktivitas ini lebih banyak dilakukan remaja pria (sekitar 90%), namun juga ada remaja perempuan yang melakukannya (sekitar 30%).

Sebagian orang menganggap melepaskan syahwat dengan onani/masturbasi merupakan jalan yang lebih selamat daripada berzina. Kadar maksiat memang lebih rendah dari zina beneran. Tapi bukan berarti onani tidak terlarang. Dalam Islam, melampiaskan nafsu syahwat hanya diperkenankan dilakukan terhadap istri atau budak yang dimiliki. Barang siapa yang mencari pelampiasan selain itu maka mereka termasuk orang yang melampaui batas.

Jika onani dibolehkan, tentu Rasulullah SAW tidak perlu memerintahkan para pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa. Mereka yang belum mampu menikah tentu tinggal diperintahkan untuk onani Namun kenyataannya tidak, mereka yang belum mampu menikah diperintahkan untuk berpuasa, tidak diperintahkan untuk onani. Jadi, onani tetap saja terlarang.

-Musik

Satu hal yang biasanya remaja kurang tahu bahwa hal tersebut juga merupakan maksiat adalah mendengarkan musik. Parahnya, kehidupan remaja saat ini kayaknya tak bisa lepas dari musik. Konsumen musik terbanyak tetap saja remaja, baik yang untuk cewek ataupun cowok, baik yang majalah ataupun tabloid, semuanya memberikan porsi ruang yang lumayan besar bagi berita musik.

Musik merupakan sesuatu yang haram karena Rasullah SAW bersabda tentang akan datangnya suatu kaum yang menghalalkannya. Musik merupakan senjata ampuh setan untuk melalaikan manusia dari mendengarkan Al-Quran.

Musik juga merupakan pembuka kemaksiatan lain. Orang yang suka musik mungkin akan sering menghadiri acara pertunjukkan musik. Biasanya di pertunjukkan musik, sponsornya adalah rokok. Trus klo beli tiket, dapat rokok gratis. Malah jadinya merokok kan? Belum lagi klo acaranya bertempat dikelab malam, pasti mereka jual minuman beralkohol juga. Sudah acaranya kelar, acara lanjutannya pasti disko atau dansa bareng.

-Mencontek

Dosa yang ini biasa terjadi di sekolah,terutama saat ulangan atau ujian. Mencontek dilakukan untuk mendapatkan nilai bagus. Hakikatnya mencontek adalah menipu, baik diri sendiri ataupun guru.

Hasil yg diperoleh mungkin memang seperti apa yang kamu harapkan. Tapi betulkah demikian kemampuanmu? Ingatlah pertanggungjawaban tidak hanya di depan guru saja. Di akherat nanti, penipuan yg kamu lakukan tersebut juga harus kamu pertanggungjawabkan.

-Merokok dan seterusnya

"Nggak jantan klo gak merokok!"
Remaja laki-laki klo sudah diberi cap gini, biasanya keder juga. Lalu, ikut-ikutanlah ia merokok. Padahal, yang jantan adalah yang gak merokok: sendirian tanpa rokok saja sudah berani mengatasi masalah hidup. Kenyataannya rokok memang biasa menjadi pelarian orang-orang pengecut yang tidak berani menghadapi masalah hidup.

Rokok seluruhnya mengandung racun. Bisa jadi ia malah lebih berbahaya daripada khamer. Allah melarang kita membinasakan diri kita sendiri. Klo begitu menghisap rokok juga diharamkan.

Rokok juga merupakan pintu untuk merasakan hal-hal haram lainnya. Pecandu rokok bisa-bisa tertarik untuk mencampurkan ganja di dalam rokoknya. Ganja mempunyai efek memabukkan, jadi tentu saja ganja adalah barang haram. Kalo sudah kenal rokok -dan ganja- tak lama kemudian para remaja akan mencoba obat-obat penenang. Tak ketinggalan juga miras, Seringkali pecandu dari semua itu berasal dari merokok.

-Hal sia-sia

Waktu luang bisa menjadi bumerang. Tentu, klo kita gak bisa memanfaatkannya untuk kebaikan. Remaja yang mudah suntuk karena kebelumstabilan emosinya, ditambah beratnya beban pelajaran di sekolah membuat mereka lebih sering memanfaatkan waktu luang untuk bersenang-senang. Masalahnya kebanyakan hal yang senang-senang itu adalah hal yang sia-sia. Contohnya adalah kebiasaan nongkrong-nongkrong, main game, keluyuran di pusat-pusat belanja.

Bayangkan jika waktu luang itu kita gunakan untuk aktivitas yang bermanfaat. Oke, mungkin kamu bosen juga. Kebanyakan remaja pikir aktivitas bermanfaat itu harus yang perlu mikir-mikir berat. Sebenarnya tidak. Asal kamu punya hobi positif maka itu juga aktivitas yang bermanfaat. Misalnya saja kamu seneng elektronika, maka waktu luangmu bisa kamu gunakan untuk belajar reparasi barang-barang elektronik. Kalo kamu suka komputer, waktu luangmu bisa kamu gunakan untuk belajar pemrograman., atau bikin situs dakwah, dan lain-lainnya. Paling gampang, waktu luangmu kamu gunakan untuk membaca, menambah ilmu. Sedangkan, sebaik-baiknya ilmu -dan juga sesedikit yang diberikan di sekolah umum- adalah ilmu agama. Jadi, baca buku agama pas waktu luang sangat pas buat kamu.


Nah, itu tujuh maksiat yang biasa remaja lakukan. Semoga kamu sudah tidak melakukannya lagi. Yang belum bisa berpisah dengan dosa-dosa di atas, segera saja kuatkan hati dan bulatkan tekad. Yang namanya tobat memang butuh kesungguhan. Allah akan menunjukkan jalan bagi orang yang bersungguh-sungguh. Selamat berjuang




Labels:

PUISI (Problematika Ummat ISlam hari Ini)


Kajian [6375 Reads] Send this story to someone Printer-friendly page
Ahwalul Muslimin Al Yaum (Problematika Ummat Islam Hari Ini)
Posted by: jurnalis on Tuesday, November 21, 2006 - 03:10

Oleh : Ust. M Ihsan Arliansyah Tanjung

Hudzaifah.org - Tema ini adalah suatu upaya untuk menggambarkan akan keadaan dunia Islam kontemporer (saat ini) dengan segala kelebihan dan kekurangan-kekurangannya. Kondisi umat Islam saat ini penuh dengan kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahan itu terkait dengan kapasitas intelektual dan problematika moral. Kelemahan dalam kapasitas intelektual (Al Jahlu). Kelemahan umat Islam yang terkait dengan kapasitas intelektual meliputi:
  1. Dho'fut Tarbiyah (lemah dalam pendidikan) Kelemahan dalam aspek pendidikan formal dan informal (pengkaderan) sangat dirasakan oleh umat Islam masa kini. Jika pendidikan juga pembinaan dan pengkaderan lemah maka akan mustahil melahirkan anasir-anasir dalam nadhatul umat (kebangkitan umat)

  2. Dho'fut Tsaqofah (lemah dalam ilmu pengetahuan) Dewasa ini sedang sangat pesat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi umat Islam terasa tertinggal bila dibandingkan umat yang lainnya, ini disebabkan karena wawasan umat Islam yang sempit dan terbatas juga lemah dalam mengembangkan ilmu penge-tahuan ini disebabkan kemauan umat untuk menuntut ilmu sangat rendah. _____________________
  3. Dho'fut Takhthith (lemah dalam perencanaan-perencanaan) Umat Islam sekarang ini tidak memiliki strategi yang jelas. Rencana perjuangannya penuh dengan misteri. Hal tersebut disebabkan umat Islam tidak diproduk dari pembinaan-pembinaan yang baik dan tidak memiliki wawasan ilmu pengetahuan yang memadai. -
  4. Dho'fut Tanjim(lemah dalam pengorga-nisasian) Sekarang ini terjadi gerakan-gerakan yang mengibarkan bendera kebathilan, mereka membangun pengorganisasian yang solid sementara umat Islam lemah dalam pengorganisasian sehingga kebathilan akan di atas angin sedangkan umat Islam akan menjadi pihak yang kalah. Sesuai perkataan khalifah Ali ra "Kebenaran tanpa sistem yang baik akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisasi dengan baik". -
  5. Dho'ful Amniyah (lemah dalam keamanan) Masa kini umat Islam lengah dalam menjaga keamanan diri dan kekayaan baik moril dan materil sehingga negeri-negeri muslim yang kaya akan sumber daya alam dirampok oleh negeri-negeri non muslim. Begitu pula dengan Iman, umat lslam tidak lagi menjaganya tidak ada amniyah pada aqidah dan dibiarkan serbuan-serbuan aqidah datang tanpa ada proteksi yang memadai. -
  6. Dho'fut Tanfidz (lemah dalam memobilisasi potensi-potensi diri) Umat Islam dewasa ini tidak menyadari bahwa begitu banyak nikmat-nikmat yang Allah SWT berikan dan tidak mensyukurinya. Jika umat Islam mersyukuri segala nikmat Allah dari bentuk syukur itu akan muncul kuatut tanfidz yaitu kekuatan untuk memobilisir diri dan sekarang umat Islam lemah sekali dalam memobolisir diri apalagi memobilisir secara kolektifitas. -
  7. Maradun Nafs(Kelemahan dalam pro- blematika moral ) Kelemahan-kelemahan dalam problematika moral yang terjadi pada umat Islam sekarang yaitu:
  • Adamus Saja'ah (hilangnya keberanian) Umat Islam tidak seperti dahulu yang berprinsip laa marhuba illalah (tiada yang ditakuti selain Allah) sehingga tidak memiliki keberanian seperti orang-orang terdahulu yakni Rasulullah dan para sahabatnya yang terkenal pemberani. Sekarang ini umat Islam mengalami penyakit Al Juban (pengecut). Rasa takut dan berani itu berbanding terbalik sehingga jika seorang umat Islam takut kepada Allah maka ia akan berani kepada selain Allah tetapi sebaliknya jika ia takut kepada selain Allah maka ia akan berani menentang aturan-aturan Allah SWT. -
  • Adamus Sabat (hilangnya sikap teguh pendirian) Umat Islam mulai memperlihatkan mudah mengalami penyimpangan-penyimpangan dan perjalanan hidupnya karena disebabkan oleh :
1. termakan oleh rayuan-rayuan
2. terserang oleh intimidasi atau teror-teror.

Salah satu illutrasi hilangnya sabat (keteguhan) ini adalah prinsif-prinsif hidup kaum muslimin tidak lagi dipegang hanya sering diucapkan tanpa dipraktekan. Sebagai contoh Islam mengajarkan kebersihan sebagian dari Iman tetapi di negari-negeri kaum muslim kondisinya tidak bersih menjadi pemandangan pada umumnya.
  • Adamut Dzikriyah (hilangnya semangat untuk mengingat Allah) Dalam Islam lupa diri sebab utamanya ialah karena lupa kepad Allah. Umat Islam dzikirullah-nya lemah maka mereka kehilangan identitas mereka sendiri sebagai Al Muslimum. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qs. Al Hasyr ayat 19 "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik". -
  • Adamus Sabr (hilangnya kesabaran) Kesabaran merupakan salah satu pertolongan yang paling pokok bagi keberhasilan seorang muslim, sesuai firman Allah Qs.2:153 "Hai orang-orang beriman mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar".
Kesabaran meliputi:
  1. Ashabru bitha'at (sabar dalam ketaatan)
  2. Ashabru indal mushibah (ketaatan ketika tertimpa musibah)
  3. Ashabru anil ma'siat (sabar ketika menghadapi maksiat)

Sebagai umat Islam harus memiliki kesabaran ketiganya.

  • Adamul Ikhlas (hilangnya makna ikhlas)
Ikhlas tidak identik dengan tulus. Tulus artinya melakukan sesuatu tanpa perasaan terpaksa padahal bisa saja orang itu ikhlas walaupun ada perasaan terpaksa. Contohnya pada seseorang yang melakukan shalat subuh yang baru saja jaga malam sehingga sanat terasa kantuk tetapi karena shalat adalah suatu kewajiban perintah Allah swt ia tetap mengerjakannya dsb.

  • Adamul Iltizam (hilangnya komitmen)
Dewasa ini kaum muslimin kebanyakan tidak istiqomah berkomitmen terhadap Islam bahkan tidak sepenuhnya sadar bahwa Islam harus menjadi pengikat utama dalam hidupnya sehingga mereka banyak menggunakan isme-isme yang lain. []

Sumber : pks.or.id

Labels: ,