27 December, 2009

Membina Diri Menjadi Murabbi

Menjadi orang yang shalih dan mushlih adalah buah yang kita harapkan dari proses pembinaan yang kita jalani. Shalih secara pribadi dan mengupayakan tumbuh kembangnya keshalihan pada orang lain merupakan teladan dari Rasulullah SAW dan para salafushshalih yang sepatutnya kita ikuti. Alhamdulillah, saat ini sangat banyak di antara kita yang mendapatkan kesempatan menjadi mentor atau murabbi baik di kampus maupun sekolah. Sesungguhnya yang kita inginkan bukanlah semata banyaknya jumlah adik mentor atau mutarabbi kita.

Akan tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana agar kuantitas dan kualitas selalu merupakan fungsi yang bergradien positif. Atau menurut slogan seorang ikhwah,”Daripada berjuang bersama 20 orang tapi tidak berkualitas, lebih baik berjuang bersama 2000 orang yang berkualitas.”

Kunci utama peningkatan kualitas umat ini terletak di tangan para penyeru seruan Islam itu sendiri. Atau dalam konteks ini berarti penentu penjagaan dan peningkatan kualitas keshalihan para adik mentor/mutarabbi adalah para mentor/murabbi itu sendiri.

Berikut ini adalah beberapa karakteristik yang mesti kita usahakan agar melekat pada diri para mentor/murabbi :
1. Al-Fahmu As-syamil al-kamil, yaitu pemahaman yang sempurna dan menyeluruh terhadap dasar-dasar keislaman dan rambu-rambu petunjuknya, juga terhadap apa yaang akan didakwahkannya, karena seorang mentor/murabbi akan mentarbiyah seseorang yang memiliki akal, perasaan dan pemahaman, dan orang tersebut akan merefleksikan apa yang didengar dan diperhatikan dari sang mentor/murabbi, maka apabila seorang mentor/murabbi tidak memiliki level pengetahuan yang memadai dan wawasan pemahaman yang menyeluruh tentang dasar-dasar keislaman, maka hal itu akan memindahkan sebuah kebodohan kepada adik mentor/mutarabbinya, yang pada gilirannya akan menimbulkan masalah dalam pembentukan kepribadian muslim sang adik mentor/mutarabbi itu sendiri.

2. Waqi’ ‘Amaly, yaitu keteladanan sang mentor/murabbi dengan amal perbuatannya yang secara real tampak jelas pada perilakunya, seperti geraknya, diamnya, bicaranya, atributnya, pandangannya dan ibrohnya, seluruh keteladanan itu adalah buah refleksi dari pengaruh keimanan dan pemahaman dalam kehidupan sang mentor/murabbi, dalam rangka memberikan pengaruh keteladanan yang baik (Qudwah shalihah) pada saat kemunculannya di tengah-tengah masyarakat.

Seorang ulama, Hasan Al-Banna mensifati murabbi dengan sebutan da’i mujahid, lebih jelasnya beliau menyebutkan bahwa da’i mujahid adalah : “Sosok seorang da’i yang telah mempersiapkan segala sesuatunya, yang terus menerus berfikir, besar perhatiannya dan siap siaga selalu”. Begitulah seharusnya seorang mentor/murabbi, tercermin iman dan keyakinannya pada perilaku dan amalnya. Berdasarkan penelitian pada perjalanan kehidupan sang mentor/murabbi, bahwa pengaruh mereka terhadap banyak orang lebih banyak berasal dari perilaku dan akhlaknya yang istiqomah di setiap keadaan. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa “Manthiqal Af’al aqwa min manthiqil aqwal” ( Logika amal / perbuatan lebih kuat dari logika kata-kata). Dikatakan pula oleh ulama salafushashalih : “Man lam tuhadzdzibka ru’yatuhu fa’lam annahu ghairu Muhaadzdzab” (Barang siapa yang tidak mendidikmu ketika engkau melihatnya maka ketahuilah bahwa orang itu juga tidak terdidik).

Al-imam Syafi’i rahimahullohu berkata : “Man wa’adzho akhohu bifi’lihi kaana Haadiyan” (Barang siapa yang menasehati seudaranya dengan amal perbuatannya maka berarti ia telah menunjukinya”. Oleh karena itu keteladanan adalah fokus yang sangat sensitif dan halus, karena apa yang tampak pada dirinya jauh lebih besar pengaruhnya dari apa yang diucapkannya (Al-Mandzhor a’dzhomu ta’tsiran minal qoul).

3. Al-khibroh binnufus, yaitu berpengalaman dalam memahami aspek kejiwaan, karena sesungguhnya lapangan kerja seorang mentor/murabbi tidak lain adalah kejiwaan, bergumul dengannya dan menjadikannya sasaran yang pertama dan terakhir dalam proses tarbiyah, sedangkan jiwa tidak seperti gigi sisir, akan tetapi jiwa orang berbeda satu dengan yang lainnya, ada yang lemah, ada yang kuat, ada yang peka dan over sensitif. Ada yang lembut , ada yang keras,bebal dan sebagainya.

Oleh karena itu seorang mentor/murabbi hendaknya menyikapi seseorang sesuai dengan kejiwaannya dan berhati-hati dalam berinteraksi dengannya, maka jangan bersikap terlalu tegas dan keras kepada orang yang jiwanya halus dan peka, melainkan harus dihadapi dengan lemah lembut , sebaliknya orang yang jiwanya keras harus dihadapi dengan ketegasan jika ia lalai dan menyimpang. Adalah Rosululloh SAW sosok murabbi pertama yang berpengalaman dalam ilmu jiwa, beliau tidak mempergauli para sahabatnya dengan sikap yang sama antara yang satu dan lainnya, karena beliau sangat tahu akan tabiat manusia dan kejiwaan mereka. Dalam hadits riwayat Bukhari dari Abdulloh ibnu mas’ud RA. Beliau bersabda : “Adalah Rosululloh SAW pernah beberapa hari lamanya tidak memberikan nasehat dan wejangan kepada kami, karena beliau takut kami menjadi bosan” (Al-Hadits)

Berkaitan dengan Al-khibroh binnufus, banyak contoh keteladanan dari murabbi zaman ini, diantara mereka adalah Hasan al-Banna, di mana telah terjadi dialog antara beliau dengan salah seorang ikhwah, Ikhwah tersebut berkata : “Sesungguhnya ana lagi banyak muskilah dan banyak yang ingin ana adukan kepada Antum, masalah yang ana hadapi ada yang bersifat umum dan ada yang khusus”, maka kata Hasan Al-Banna : “Sudahlah jangan bebani diri Antum dengan masalah itu, serahkan urusan Antum kepada Alloh”, “Tapi, ana ingin Antum tahu”, sergah Akh tersebut, “Sesungguhnya ana sudah tahu” kata Al Banna seraya meyakinkan Akh tersebut, “Jadi ana bahagia kalau antum mau tahu” balas akh tersebut.

Akan tetapi belum sempat ana memulai curhat, beliau sudah mendahuluiku dengan rentetan musykilah dan keluhan yang dialaminya sendiri, bahkan yang mengherankan apa yang diutarakannya sama dengan apa yang ana rasakan . setelah beliau selesai berbicara, maka ana pun berkata kepadanya : “Ya ustadz….. demi Alloh sungguh ana sangat bahagia, dan ana tidak akan mengeluh lagi”, ana mengatakan semua itu sambil terisak dan bercucuran air mata”.

(Tawazun)
by :http://ceritadk.blogspot.com

Labels:

Sepucuk Surat dari Sahabat Dakwah FSLDK (We Miss U)

Hujan semakin deras mengguyur Depok. Jaket hijauku kurapatkan ke tubuh. Masjid Ukhuwwah UI cukup sepi, hanya beberapa orang ikhwan terlihat asyik menekuri mushaf Al-Quran di lantai bawah. Aku tidak mungkin balik ke Surabaya hari ini, karena besok masih ada bahan proposal yang harus aku cari di perpustakaan. Alhamdulillah, ada adik ikhwan teman seperjuangan FSLDKN XII yang akan menjemput.

Sekedar mengusir sepi, kuayun langkah ke arah mading. ‘Info FSLDK’, tulisan itu segera menyita perhatianku. FSLDK kembali mengadakan aksi serentak penolakan terhadap pelarangan jilbab di sekolah negeri oleh pemerintah Perancis. Targetnya Kedubes Perancis untuk Indonesia ‘di-PHK’. Wonderfull! Ghirahku menggelora. Aku ingat semua kenangan setahun lalu, suka duka FSLDKN XII.

“Afwan Mas, ana telat”. Suara seorang ikhwan mengagetkanku. Beriringan kami menuju mobil di depan gerbang mesjid. Di sepanjang jalan, Ahmad dengan sedih bercerita tentang kondisi tim FSLDK sekarang yang kurang semangat, kurang solid dan sederet kondisi lainnya. “Untuk mengkoordinir aksi jilbab Perancis itu saja sulit”, katanya.

Rona sedih mulai membayang di wajahku. Teringat betapa ikhwah-ikhwah sebelumnya yang penuh ghirah mengemban amanah ini. Aku ingat, waktu itu juga kami sempat mengalami ‘kelemahan ghirah’, sampai seorang ukhti mempersembahkan sebuah rangkaian kata mutiara yang tersusun indah, sebuah taushiyah. Seorang ukhti yang selalu mengusung amanah dakwah dengan penuh ghiroh jihad, walaupun kanker tengah menggerogoti tubuhnya. Semoga Allah merahmatimu di FirdausNya, ukhti fillah!

Untuk antum yang sedang mengemban amanah di Lembaga Dakwah Kampus –bersama Forum Silaturrahminya- serta antum yang mengemban amanah di wajihah mana pun, kubuka kembali copy surat taushiyah yang masih kusimpan indah sampai hari ini. Semoga untaian hikmahnya menyalakan kembali ghiroh juang kita, di wajihah mana pun kita.

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Subhanallah, nahmaduhu wa nastaghfiruhu, Ash- sholatu wassalamu ‘ala rasuluhu, Muhammad SAW.

Ana awali tulisan ini dengan merangkai basmalah dan istighfar, semoga Allah menjaga untaian kata ini dari berbagai fitnah, dan menjadikannya semata untuk perbaikan dakwah. Sebab, pada Allah lah semuanya bermuara. Nur-Nya lah yang akan mampu menunjuki kita pada perbaikan kualitas dalam mengemban amanah mewarisi misi para Nabi ini, Insya Allah.

Bersama bait-bait nada ‘La Tas-aluni’ dari klub nasyid Tarbiyah, ana menekan tuts-tuts keyboard, mengajak kita semua merenungi kembali dan bertanya kembali tentang kehidupan kita ini. “La tas-aluni ‘an hayati, fahia asrorul hayat …” (Jangan kalian tanya tentang hidupku. Ia adalah kehidupan yang penuh misteri... )

Kesempurnaan adalah sebuah hal yang mustahil kita raih, dalam kapasitas apa pun. Namun, cukup lah ke-Maha Sempurna-an Allah menjadi motivasi bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas amal kita. Karena, kita bergantung kepada zat yang Maha Sempurna, akan kah kita ‘merasa nyaman’ dengan berbagai kekerdilan diri kita tanpa upaya perbaikan yang kontinyu?

Ikhwah,
FSLDK adalah sebuah amanah besar yang ada di pundak kita saat ini, dan di sekeliling kita, begitu banyak ikhwah yang setia menanti karya-karya besar kita untuk akselarasi dan sinergisasi gerak dakwah lewat wajihah Lembaga Dakwah Kampus ini. Perjalanan amanah ini menuntut profesionalisme kerja dari kita semua. Amanah yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ikhwah,
Adalah layak untuk kita mengevaluasi perjalanan amanah kita sampai hari ini. Sudah optimalkah kita menjalankan amanah kita? Puluhan juta, bahkan ratusan juta dana yang kita habiskan tiap dwitahunan dalam washilah FSLDK, adakah itu sebanding dengan manfaat yang kita peroleh dalam penataan LDK se-Indonesia? Mari membuat daftar pertanyaan sebanyaknya!

Ikhwah,
Kalau jawabnya kita belum optimal, apa penyebabnya? Apakah pemahaman kita tentang washilah ini yang kurang, kemampuan kita kah yang terbatas, atau –naudzu billah- ruh dakwah kita kah yang mulai hambar? Kalau jawabnya tidak sebanding, apa yang harus kita lakukan? Manajemen kita kah yang harus diperbaiki, atau memang washilah ini kurang tepat guna?

Mari cari jawaban dari tiap pertanyaan itu!

Ikhwah,
Ana –dan ana yakin antum juga- punya sebuah ‘mimpi indah’. Mimpi yang membuat ana sedih, ketika di pagi hari ana dihadapkan pada kenyataan bahwa ana harus membuka jendela kamar. Kesedihan yang kemudian ana sadari semestinya menjadi bahan bakar ruh jihad dan nafas harokah islamiyyah. Antum tau, ketika itu aroma yang tertangkap oleh indera pembau adalah aroma kering … aroma kelelahan zaman menanti hadirnya sosok-sosok mujahid dakwah yang mengusung SEMANGAT BARU, menapaki jejak-jejak pemuda Ash-Habul Kahfi mencari ridho Ilahi.

‘Kegelisan zaman itu seakan berbisik lewat angin yang berhembus perlahan, bersama mentari yang mengintip malu di balik awan. Dia bergumam: kapan kah gerangan para warotsatul anbiya’ itu berteriak lantang untuk menebar semerbak harum syariat Islam di bumi ini?

SEMANGAT BARU JEJAK PEMUDA ASH-HABUL KAHFI MENCARI RIDHO ILAHI …………………….

Mimpi itu ikhwah, ana yakin bukan lah cerita negeri dongeng, atau lakon kartun yang utopi. Mimpi itu hanyalah sebuah harapan sederhana, yang berkisah tentang dakwah yang semerbak, bak bunga-bunga mekar di taman firdaus.

Bayangkan ……………..

Suatu hari antum terbangun di sepertiga akhir malam, sekitar jam 3 WIB. Setelah memanjatkan doa, antum bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Air wudhu mengaliri anggota tubuhnya meninggalkan kesejukan yang lembut. Lalu pakaian sholat yang harum mulai antum rapikan di tubuh yang ringkih ini. Sesaat sebelum lafaz niat qiyamullail antum lantunkan, indera pendengar antum menangkap sayup-sayup suara tangis yang syahdu menyayat hati. Subhanallah, suara itu milik tetangga sebelah kanan rumah yang sedang qiyamul lail juga. Bukan suara tangis menahan malu karena aib yang tercoreng akibat pergaulan anak gadisnya, bukan pula korupsi yang dilakukan sang ayah atau sejenisnya. Antum pun tertegun sesaat, sembari menggeser posisi sajadah yang mulai ‘kumal’ di ujungnya, pertanda sering dipakai sujud.

Tarikan nafas perlahan berusaha menghadirkan segenap molekul tubuh, dalam ‘perjalanan cinta’ yang akan antum lakukan, menemui zat yang antum akui sebagai Ilah, zat yang padaNya, semua harap dan cinta bermuara. “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu, hal adullukum ‘alaa tijaarotin tunjiikum min ‘adzabin aliim? Tu’minuuna billaahi wa rosuulihii wa tujaahiduuna fi sabiilillah …” lamat-lamat lantunan kalam ilahi itu kembali menyita perhatian antum. Suara itu mengalun syahdu diiringi sesekali isak tangis, seirama dengan tiap kata yang terucap. Pemiliknya tak lain adalah pemuda tetangga sebelah kiri rumah antum.

Perniagaan yang menguntungkan … Rabb … indah nian ni’matMu pada kami yang hina ini. Takbiratul ihram pun antum lantunkan penuh kasyahdua., Kesyahduan yang membawa rindu membuncah, bertemu dengan Rabb sekalian alam.

Suara adzan di masjid mengakhiri untaian do’a panjang antum. Sebuah doa yang berisi pengaduan akan begitu banyak kelemahan dan kesalahan diri, dalam mengemban amanah menjadi khalifah Allah di bumi, amanah yang sebelumnya ditolak oleh seluruh langit dan bumi. Do’a itu berharap pula akan pertolongan Allah untuk para mujahidun di berbagai belahan bumi. Mereka … para pahlawan sejati yang telah menukar Ridha Allah dengan harta, tenaga, dan jiwa mereka.

Mereka … para petarung yang tak pernah surut walau selangkah, dan tak pernah henti walau sejenak. Mereka yang dengan lantang selalu meneriakkan: ALLAHU AKBAR!!! Dalam tiap ritme perjuangannya.

Hampir saja antum tidak mendapat tempat dalam barisan jamaah shalat shubuh, karena antum tiba terlambat, tepat saat muadzzin membaca iqomat. Seluruh jamaah berdiri dalam shaf yang rapi. Pakaian rapi melengkapi wajah-wajah teduh yang selalu terbasuh air wudhu itu. Allah … serasa shalat bersama jamaah para shahabat, degan Rasulullah SAW menjadi sang imam. Kerinduan akan jannahNya semakin membuncah.

Jam menunjukkan pukul tujuh ketika antum membaca doa keluar rumah, dan mengawali langkah dengan kaki kanan. Antum akan menuju kampus hari ini. Di halte, bus kampus berhenti ‘menjemput’ antum. Dengan riang antum menyapa pak sopir lewat salam : “assalamu’alaikum pak, shobahal khoir …”. Tentu antum tak perlu berkelit kesana kemari menghindari bersentuhan dengan non-mahrom, karena bus hanya terisi kaum sejenis dengan antum; Tak Ada Ikhtilath!

Sampai di kampus, antum menikmati kuliah dengan tenang, tanpa harus khawatir akan terkena zina mata, zina hati de-el-el, karena semuanya berjalan dalam sebuah sistem qurani. Setiap bahasan akan mampu meningkatkan ruhiyah antum. Satu lagi … semua fasilitas dapat antum nikmati GRATIS!, karena zakat, infak dan shadaqah kaum muslimin lebih dari cukup untuk membiayai semuanya. SUBHANALLAH ….!!!

Innamal Mu’minuuna ikhwah … Hari itu antum lalui dengan aktivitas yang membangun ‘kesalihan pribadi dan ummat’. Antum saksikan pula bagaimana Allah memenangkan hambaNya lewat ukhuuwwah yang terangkai indah. ISLAM ADALAH RAHMATAN LIL ‘ALAMIN.

Sekarang … buka lah mata antum, lihat lah kembali realita! Ternyata, kita belum dalam dunia indah tadi! Kita masih di sini! Di Sumatera, di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua … yang masih menanti perjuangan para mujahid. Kita masih berjuang di sini! Di FKI Rabbani, Salam, Gamais, JN UKMI, JMMI, Pusdima, Sentra Kerohanian Islam, UKM Birohmah, dan lainnya. Berjuang lewat wajihah LDK tuk sebuah tujuan mulia: TEGAKNYA IZZAH ISLAM WAL MUSLIMUN!

Dan … perjalanan perjuangan itu ikhwah. Masih jauh … hampir tak bertemu ujung. Penuh aral nan melintang, penuh onak dan duri. Karena Langkah ini adalah langkah-langkah abadi,
Menapak tegak laju tanpa henti. Tak pernah rasa rugi menapak jalan ini, Syurga Allah menanti

Sekali lagi ikhwah, kita masih di sini! Di jalan dakwah ini! Kita di sini untuk berjuang! Setia mengusung cita: HIDUP MULIA ATAU SYAHID MENGGAPAI SYURGA!

Karena itu ikhwah … Mari berkarya, dengan yang terbaik yang kita punya tentunya. Jangan pernah malas dan jemu berkorban untuk perniagaan ini! Berjuanglah ikhwah! Dan teruslah berjuang! Sampai Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin menjadi saksi akan perjuangan itu. AllahuAkbar!!!

ukhti uni
Eramuslim, 19/02/2004

Labels:

Membangun Ikatan Alumni Dakwah Kampus

Saat ini banyak sekali alumni dakwah kampus dari kampus kami, akan tetapi belum bisa memberikan manfaat langsung dan besar kepada dakwah kampus karena jaringan alumni memang belum kuat, bagaimana caranya agar kita bisa membangun jaringan alumni ?

Kekuatan alumni saat ini memang sangat dibutuhkan dalam perkembangan dakwah di kampus. Karena, bagaimana pun alumni dakwah kampus ini telah memiliki sense of belonging terhadap dakwah kampus dikarenakan mereka bisa dikatakan “besar” karena dakwah kampus ini. Oleh sebab itu jika ada kesempatan untuk bisa sharing kepada dakwah kampus, maka pastilah mereka menjadi garda terdepan. Bisa dikatakan sebagai upaya balas budi. Selain itu para alumni yang telah sukses ini juga memiliki keinginan untuk bertemu dengan teman seperjuangan di kampus, sehingga sangat memungkinkan untuk memanfaatkan potensi besar ini untuk menghimpun para alumni dalam sebuah wadah. Sehingga bantuan yang diberikan kepada dakwah kampus bisa terpusat melalui ikatan alumni yang ada.

Sejatinya memang yang menginisiasi ini bukanlah kita para mahasiswa, akan tetapi justru harus dibangun dari kesadaran para alumni yang ada. Akan tetapi mahasiswa disini punya peran untuk mempertemukan dan menginisiasi para alumni ini dalam mewujudkan adanya ikatan alumni dakwah kampus ini. Manfaat besar yang saya rasakan di GAMAIS dengan IA-GAMAIS ( ikatan alumni keluarga mahasiswa Islam ) adalah hubungan yang harmonis dan slaing menunjang. Bisa dikatakan kekuatan dukungan alumni yang diberikan kepada GAMAIS 1-2 tahun terakhir memberikan banyak sekali kemajuan untuk perkembangan dakwah di GAMAIS ITB.

Ada 8 ( delapan ) langkah yang saya coba sistematiskan dalam membangun jaringan alumni ini yakni ;
(1) Membuat database alumni
Membuat database alumni dengan baik. Terdiri dari nama, jurusan, angkatan, alamat, nomor telepon, email dan pekerjaan serta jabatannya saat ini. Database ini sebisa mungkin dimutakhirkan setiap tahunnya dan diwariskan kepada pengurus lembaga dakwah selanjutnya. Jika ternyata kesulitan untuk mencari data alumni dakwah kampus era lama ( lebih dari 10 tahun ). Bisa memulainya dengan mencari tahu dari alumni yang paling tua yang Anda kenal. Pencarian database alumni ini memang butuh kerja keras dan ketekunan, karena pencarian ini ibarat pencarian seseorang. Akan tetapi jika database alumni bisa rampung dan terdata dengan baik maka pemanfaatannya akan sangat banyak.

(2) Silahturahim alumni
Setelah database alumni disusun dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah mengunjungi alumni yang ada di dalam data. Tujuan kunjungan adalah untuk membangun kembali perasaan dakwah kampusnya dan membuat para alumni merasa diperhatikan oleh adik-adik mahasiswa. Ini merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri untuk mereka karena ini memberikan kesempatan untuk para alumni agar mengenang masa perjuangan di kampus. Untuk alumni yang sudah jauh dari kota tempat kampus Anda berada, silahturahim melalui pesan singkat atau surat dapat menjadi solusi. Ketika silahturahim ini mulai di wacanakan adanya wadah alumni dakwah kampus. sembali melakukan wacana dan silahturahim ini, identifikasikan alumni yang sangat antusias terhadap inisiasi wadah alumni ini. Beliau bisa dijadikan penggerak utama dalam pembangunan wadah alumni dakwah kampus.

(3) Ada PJ per angkatan atau per generasi
Selanjutnya adalah mencari penanggung jawab alumni per angkatan atau per generasi ( jika usia LDK sudah sangat tua ). Untuk penanggung jawab angkatan sebaiknya memang kepala lembaga dakwahnya langsung, atau orang berpengaruh di angkatannya. Kebetulan di GAMAIS ITB kami menginisiasi wadah alumni setelah 19 tahun berdiri, sehingga kami hanya memiliki penanggung jawab generasi, alumni muda dan alumni tua. Tujuan adanya penanggung jawab ini adalah untuk memudahkan komunikasi dan agar mereka bisa membantu untuk mencari alumni lain yang mungkin belum masuk di dalam database.

(4) Membuat sebuah wadah bertemu di dunia maya ( mailing list, forum online, website )
Membuat media bersama seperti mailing list yang memberikan kesempatan bagi para alumni untuk berdiskusi dan bernostalgia. Sesekali kita bisa menyampaikan pesan dari kampus kepada alumni seperti pengumuman acara di kampus atau tawaran untuk donasi dan sebagainya. Harapannya dengan ada media bersama ini alumni dapat mulai merasakan kebutuhan untuk mendirikan wadah alumni sesegera mungkin.

(5) Mengadakan sarasehan atau temu alumni sederhana
Pertemuan di dunia maya tentu tidak cukup, maka perlu ada pertemuan tatap muka atau kopi darat para alumni yang biasa bertemu di dunia maya. Sarasehan ini diadakan dengan sederhana dengan tujuan utama mengumpulkan para alumni dalam satu waktu dan satu tempat. Manfaatkan momen yang penting, seperti milad lembaga dakwah, halal bi halal, buka puasa bareng dan sebagainya.

(6) Mulai mengadakan kerjasama atau meminta bantuan kepada alumni secara personal
Setelah kehadiran di sarasehan ini, barulah kita mulai mengetahui mana alumni yang cukup concern terhadap dakwah kampus. mulailah kita mengadakan kerjasama dengan alumni, apakah kerjasa sponsorship dengan perusahaannya, meminta mereka menjadi pemateri di acara kita, atau meminta bantuan materil kepada mereka agar merasa terlibat dan telah memberikan kontribusi kepada dakwah kampus. Hubungan kerjasama ini bersifat personal saja, dan sebisa mungkin meminta ke beberapa alumni , jangan hanya ke satu-dua orang saja.

(7) Inisiasi ikatan alumni dakwah kampus
Membangun ikatan alumni secara lembaga merupakan langkah penting, dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh para alumni langsung. Urusan kita sebagai mahasiswa berhenti disini. Harapannya memang para penanggung jawab angkatan serta alumni yang datang ke sarasehan dapat menginisiasi hal ini. Membangun wadah alumni memang butuh energy lebih, karena perlu ada sebuah kongres khusus, pengesahan AD/ART dan pemilihan ketua ikatan alumni untuk memudahkan koordinasi. Untuk ketua alumni sebisa mungkin pilih dari generasi tua, agar bisa mewadahi pula generasi alumni muda.

(8) Adanya program dan alokasi dana dari ikatan alumni untuk kemajuan dakwah kampus
Wadah alumni sudah terbentuk, tinggal bagaimana mahasiswa mengusulkan kepada para alumni untuk mengadakan program untuk mahasiswa seperti pengembangan diri, informasi beasiswa, career sharing dan sebagainya. Serta mengusulkan alokasi dana dari alumni yang diberikan langsung kepada lembaga dakwah untuk menjalankan roda dakwah di kampus.

Delapan langkah ini memang tidak terpaku waktu, bisa memakan waktu lama dan bisa memakan waktu singkat. Semua tergantung ketekunan kita sebagai kader dan respon dari alumni itu sendiri.

============================
Ditulis oleh :
Ridwansyah yusuf achmad
Kepala LDK GAMAIS ITB
http://ridwansyahyusuf.blogspot. com
yusuf_ahdian@ yahoo.co. id
ridwansyahyusuf@ gamais.itb. ac.id
=============================

Labels:

06 December, 2009

PERAN AKTIVIS DAKWAH KAMPUS DALAM MENJAWAB TANTANGAN DAKWAH KE DEPAN

Wednesday, October 21st, 2009

Oleh: Susilo Adi Setyawan

Seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari kiamat tentunya memiliki keyakinan bahwa setiap letupan hati, ucapan lisan dan perbuatannya akan ditanya oleh Allah SWT di yaumil hisab nanti. Karenanya ia akan melakukan setiap perbuatan sesuai dengan hukum syara’, termasuk di dalamnya aktivitas mengemban dakwah. Dakwah adalah kewajiban asasi bagi setiap muslim yang harus senantiasa ditegakkan syi’arnya, dimantapkan keberadaannya, dan ditata gerak kelembagaannya. Aktualisasi dakwah bagi setiap muslim akan menentukan identitas dan kualitas keislaman seseorang.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3] : 104) Dalam tatanan pembinaan masyarakat terutama Mahasiswa,dakwah menjadi semakin penting mengingat Kampus adalah tempat Kuliah dan penyiapan kader umat. Pada kondisi ini dakwah diharapkan memberikan tuntunan bagi Mahasiswa dalam mencapai cita-cita manusia seutuhnya. Manusia yang mempunyai keberpihakan tinggi kepada nilai-nilai Illahiyah, kepekaan sosial terhadap permasalahan ummat, dan kemampuan profesional dalam bidang yang ditekuninya. Kader seperti inilah yang akan membawa kearah tatanan masyarakat tauhid, adil makmur, sejahtera dalam limpahan ampunan dan ridlo Allah...

Dakwah kampus semakin menjadi suatu fenomena yang menarik untuk diperhatikan dewasa ini. Dengan segala dinamikanya, para aktivis dakwah kampus terus-menerus secara berkesinambungan menjalankan agendanya. Dunia kampus pun semakin akrab dengan nuansa pergerakan mahasiswa muslim. Daurah, halaqah, mentoring, kajian, seminar sampai pada aksi-aksi keummatan. Busana muslimah pun kini sudah marak bertebaran bak cendawan di musim hujan. Kampus tidak lagi sekedar tempat tumbuhnya lokus intelektual semata. Ia pun semakin kental menjadi pusat pertumbuhan semangat dan aktivitas keislaman yang signifikan.

Pengertian Aktivis Dakwah Kampus

Ada asumsi di kalangan mahasiswa bahwasanya siapa yang aktif dalam organisasi di kampus, maka nilai akademiknya akan keteteran. Atau anggapan bahwa mereka yang aktif dalam organisasi adalah orang-orang pelarian yang tidak berhasil dalam kuliahnya. Ini jelas pernyataan yang keliru. Apakah kita tidak pernah mendengar istilah ‘dakwah sekolah’ atau ‘dakwah kampus’? Orang-orang yang aktif di dalamnya disebut sebagai aktivis dakwah sekolah atau yang kedua disebut aktivis dakwah kampus. Mereka adalah orang-orang yang selain kuliah, mereka juga berdakwah. Mereka berdakwah menggunakan sarana yang ada seperti lembaga-lembaga dakwah yang ada di kampus.

Apakah aktivitas dakwah yang mereka lakukan bisa mempengaruhi prestasi akademik mereka? Jawabnya iya. Aktivitas dakwah yang mereka lakukan akan mengakibatkan prestasi akademik mereka bertambah baik. Mereka bertambah kritis, mereka menjadi orang yang lebih peka terhadap perubahan di lingkungan sekitar mereka. Karena aktifitas yang banyak, mereka dituntut untuk bisa me-manage waktu dengan baik, sehingga mereka menjadi orang-orang yang selalu bisa memanfaatkan waktu yang ada. Dengan pembagian waktu yang baik tersebut, mereka lebih fokus terhadap pelajaran yang diberikan di dalam kelas. Hal ini jelas merupakan pengaruh yang positif terhadap peningkatan prestasi akademik mereka.

Pengertian Lembaga Dakwah Kampus

Lembaga Dakwah Kampus (LDK) adalah sebuah organisasi kemahasiswaan intra kampus yang terdapat di tiap-tiap perguruan tinggi di Indonesia. Organisasi ini bergerak dengan syariat Islam sebagai asasnya. Sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia pasti mempunyai LDK. Tiap-tiap perguruan tinggi, nama LDK bisa berbeda-beda. Kadang mereka menyebut dirinya sebagai Sie Kerohanian Islam, Forum Studi Islam, Lembaga Dakwah Kampus, Badan Kerohanian Islam, dan sebagainya.

Lembaga dakwah kampus ini merupakan lembaga yang mempunyai visi dan misi yang berkaitan dengan kaidah Islam. Bentuk – bentuk kegiyatannya pun didominasi kegiatan yang berbau Islam. Kadang kala sering dijumpai pengurus-pengurusnya berbaju muslim. Hal semacam ini terkadang dinilai sebagai sesuatu yang berlebihan. Padahal, hal semacam ini dilakukan sebagai bentuk pencitraan diri dan menambah nuansa Islami di kampus, jadi bukan sekedar pakai karena dibalik semua itu .

Peran yang Dapat Dilakukan Aktivis Dakwah Kampus Melalui Lembaga Dakwah Kampus

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa aktivis dakwah kampus adalah mahasiswa yang aktif dalam kegiatan dakwah. Mereka adalah orang-orang yang selain kuliah, mereka juga berdakwah. Mereka berdakwah menggunakan sarana yang ada seperti lembaga-lembaga dakwah yang ada di kampus.

Peran yang secara nyata dapat dilihat dalam kehidupan sekarang adalah peran – peran yang mereka emban dalam lembaga dakwah kampus yang menaungi kegiatan dakwahnya. Dalam lembaga dakwah tersebut, para aktivis dakwah tentunya memiliki amanah-amanah yang berbeda, baik sesuai denn potensi yang dimiliki maupun berdasarkan kebutuhan organisasi.

Di sisi lain, seorang aktivis dakwah kampus adalah seorang mahasiswa yang tentunya berhubungan langsung dengan lingkungan kampus yang menuntut mereka untuk menjalani kehidupan kampus dengan bersosialisasi di dalamnya, entah dalam lingkup studinya, kos, maupun Unit Kegiatan Mahasiswa yang lain. Hal semacam ini hendaknya ditanggapi para aktifis dakwah sebagai sebuah peluang untuk mengembangkan misi dakwahnya.

Aktifis dakwah kampus pada dasarnya sama dengan mahasiswa lain pada umumnya, sama – sama manusia yang diciptakan sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi. Peran aktifis dakwah kampus sebagai seorang khalifah atau pemimpin di lingkunbgan kampus tentunya memiliki tanggungjawab yang cukup besar terkait dengan predikat yang dimilikinya. Munkin kita pernah mendengar bahwa seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan teladan yang baik kepada yang dipimpinnya. Segala hal yang berkaitan dengannya akan menjadi suatu bahan kajian yang pragmatis bagi orang di sekitarnya. Dari hal tersebut, seorang aktivis dakwah haruslah benar – benar memahami posisinya.

Tantangan Dakwah di Lembaga Dakwah Kampus

Dalam sebuah lembaga manapun tentunya akan adanya tantangan, hambatan atau kendala yang dihadapi terkait visi dan misi suatu lembaga tersebut. Tidak terkecuali lembaga dakwah kampus.

Tantangan yang dihadapi salah satunya adalah tantangan dari dalam lembaga itu sendiri, terkait pengorganisasian para pengyurusnya. Selain itu, tantangan yang dihadapi adalah tantangan untuk menjaga kualitas hasil dan proses para aktivis dakwah di dalamnya, baik dalam hal perkuliahan maupun dalam aktifitas organisasi dan berdakwah. Belum lagi hal –hal yang terkait upaya pencitraan lembaga dakwah kampus tersebut.

Solusi di Lembaga Dakwah Kampus

Pertama, yang harus dilalui.sbuah lembaga dakwah kapus adalah bagaimana LDK memiliki soliditas internal yang kokoh dengan adanya visi bersama yang jelas, struktur yang mantap serta kepahaman para jundi (aktivis) dan pelibatan emosi. Dalam bahasa lain, kita menemukan sebuah stimuli profetik mengenai substansi soliditas tim dalam taujih rabbani QS. Al-Ma’idaah: 146-148. Mulai dari kuantitas yang besar dari mujahid yang siap maju di barisan jihad fi sabilillah. Kemudian, kualitas yang andal dalam medan perjuangan: tidak mudah lemah (’adamul wahn), tidak mudah lesu (’adamu adh-dha’fu), tidak gampang menyerah (’adamul istikanah). Berikutnya adalah menyadari kelemahan lawan. Sehingga fokus kerja kaderisasi LDK adalah (1) to raise quantity (numu al kamiyah), kuantitas ;(2) to develop the quality (numu al nau’iyah), kualitas;(3) to build up the competence (numu al qudrah), kompetensi.

Kedua, adalah pembauran.. Konsep ini ditujukan untuk rakyat kecill di kampus yaitu basis sosial (qaidah ijtimaiyah). Di sini, harus terbangun citra baru ADK yang inklusif dalam pergaulan dalam pandangan publik. Re-marketisasi lembaga juga harus dilakukan agar para ADK tidak hanya dipanggil dalam acara-acara baca do’a atau diminta meruqyah bila ada kesurupan jin. Selain itu, sinergi antara moral intelektual dengan logika perut rakyat juga mesti diperhatikan. Karena orang yang lapar akan kesulitan atau bahkan tidak bisa mencerna sebaik apapun nasehat.

Ketiga, menjaga kelangsungan eksistensi. Maksudnya, setelah lembaga kokoh dan kredibilitas sosial terbangun, maka sudah saatnya figur ADK muncul menjadi pemimpin yang melayani (khadimul ummah). Di sini dibutuhkan profil aktivis yang ideal dengan kepemimpinan efektif untuk mengulang kisah sukses para khalifah dalam rentang sejarah keemasan Islam. Terlebih jika dibangun dengan lebih dekat dan bersahabat.

Solusi untuk Aktivis Dakwah Kampus

Ada beberapa langkah agar kegiatan kuliah dan dakwah bisa berjalan seiringan.
Pertama, memiliki manajemen waktu. Ketika kita mau menyinergikan antara kuliah dan dakwah, mau tidak mau kita harus memiliki manajemen waktu yang baik. Dalam tiap pekan bahkan kalau memungkinkan dalam harian kita, harus sudah tergambar kapan waktu-waktu kuliah dan kapan waktu-waktu untuk berdakwah. Dengan pengaturan waktu tersebut diharapkan tidak ada lagi kegiatan kuliah atau dakwah yang saling berbenturan. Juga bertujuan untuk mengetahui apakah ada waktu luang yang dapat diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bisa menunjang perkuliahan seperti mengikuti seminar dan diskusi, atau kegiatan-kegiatan positif yang lain yang bisa mengembangkan potensi diri seperti olah raga misalnya, sehingga tidak ada lagi waktu kosong yang terbiar begitu saja.

Kedua, memiliki skala prioritas terhadap kegiatan. Ini berguna ketika ada dua kegiatan yang harus dikerjakan dalam waktu yang sama. Biasanya ini terjadi karena ada kegiatan yang belum terjadwal dengan baik. Jika jadwal kita sudah tersusun, maka kita bisa melihat apakah kegiatan itu penting atau tidak, jika tidak maka bisa kita abaikan. Jika kegiatan tersebut penting dan harus segera dilaksanakan maka tidak ada jalan lain kecuali mengambil salah satunya. Di sinilah kedalaman kita melihat mana yang lebih prioritas dari dua kegiatan yang sama-sama penting. Bisa jadi salah satunya kita delegasikan ke teman lain untuk melaksanakannya.

Ketiga, optimalisasi peran baik dalam kegiatan dakwah maupun kuliah. Ini penting agar setiap kegiatan yang kita ikuti tidak sia-sia. Artinya saat kuliah kita betul-betul kuliah dan saat berdakwah kita betul-betul berdakwah. Peran kita sebagai mahasiswa saat kuliah harus bisa dijalankan dengan baik. Begitu juga peran kita sebagai da’i ketika berdakwah harus bisa dijalankan dengan baik pula. Tidak mungkin kita bisa mencapai hasil yang maksimal dalam perkuliahan jika pikiran dan perhatian kita tidak fokus saat mata kuliah diberikan. Begitu pula ketika berdakwah, hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan dakwah harus dijauhkan dari pikiran kita. Seperti yang diungkapkan dalam sebuah hadits, “Allah menyukai hamba-Nya yang memilih sebuah pekerjaan dan menekuninya.”

Semoga bermanfaat. Amiin..

Labels:

05 December, 2009

Manajemen Prioritas dalam Dakwah Kampus

Oleh: Hendratno, ST. *)

Hudzaifah.org - Dakwah kampus adalah arena yang penuh dengan aktivitas yang dinamis, ditengah-tengah miniatur masyarakat kecil, yaitu masyarakat kampus. Akan ada banyak opsi-opsi yang harus dipilih oleh dakwah kampus dalam menjalankan roda dakwahnya. Oleh karena itu, penting kiranya kita mengkaji mengenai manajemen prioritas.

Kajian mengenai Manajemen Prioritas dalam Dakwah Kampus harus didahului dengan kajian mendalam mengenai Fiqh Prioritas. Jadi, saya menyarankan sebelum membaca tulisan ini, sebaiknya baca dahulu buku Fiqh Prioritas (Fiqh Aulawiyat) yang pernah disusun oleh DR. Yusuf Qardhawi.


Mengenai manajamen prioritas dalam dakwah, ada beberapa hal yang menjadi ruang lingkupnya, agar jelas sudut pandang kita dan tidak terlalu melebar pembahasannya. Berikut ini adalah ruang lingkupnya.

Follow up:
Aulawiyat (prioritas) yang kita pahami dalam konteks da’wah, bukan memilih antara iman dan kufur, al-haq dengan yang al-bathil, antara halal dengan yang haram, antara yang lurus dengan yang menyimpang, atau antara berda’wah dengan tidak berda’wah. Karena dalam hal ini, sudah jelas bahwa keimanan adalah keharusan, sedangkan kekufuran harus ditolak, sebagaimana pernyataan Laa ilaaha illallah yang menolak semua tuhan-tuhan itu, kecuali Allah SWT. Begitu pula antara al-haq dengan al-bathil, al-haq adalah barisan yang harus kita ikuti, sedangkan al-bathil harus ditinggalkan. Dan seterusnya.

Aulawiyat di sini adalah dalam hal memilih satu atau sebagian dari sejumlah perkara yang halal. Lalu dari perkara-perkara halal tersebut, kita memilih mana yang afdhal dari yang mafdhul, mana yang “ashlah� dari yang sholih.

Dan yang perlu dipahami lagi, memilih sesuatu yang diprioritaskan bukan berarti meninggalkan atau membatalkan suatu pekerjaan yang baik demi untuk mengerjakan pekerjaan baik yang lain. Maksudnya adalah mendahulukan mana yang lebih tepat didahulukan, memberinya lebih banyak alokasi dan dukungan waktu, tenaga serta sarana lainnya yang diperlukan. Inilah ruang lingkup kita sebagai batasan kajian Manajemen Prioritas kita.

Aulawiyat merupakan salah satu prinsip fithrah. Dalam Al Qur'an banyak sekali prinsip-prinsip aulawiyat ini, dimana Allah mendahulukan sesuatu dari sesuatu yang lain. Contohnya adalah firman Allah berikut ini:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al Kahfi: 46)

Ayat di atas menyiratkan bahwa amalan-amalan shaleh adalah lebih baik untuk diprioritaskan ketimbang perhiasan dunia yang disebutkan sebelumnya. Lalu kita lihat contoh ayat berikut ini:

"...Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)." (QS. Al Ahzab: 6)

Ayat di atas berkaitan dengan hukum waris, dimana orang-orang yang mempunyai hubungan darah adalah orang yang lebih berhak didahulukan dalam hal waris mewarisi.

Rasulullah SAW juga pernah bersabda, berkaitan dengan prioritas dalam hal ibadah:

"Amal yang afdhal adalah yang lebih kontinyu. Dan shodaqoh yang afdhal dikeluarkan saat sedang membutuhkan dan terasa besar pengorbanannya." (Hadits)


Prinsip Prioritas dalam Manajemen Dakwah Kampus

Dalam mengatur jalannya roda dakwah kampus, diperlukan manajemen. Dan dalam manajemen digunakan beberapa prinsip, salah satunya prinsip prioritas untuk memilih beberapa pilihan-pilihan yang berkaitan dengan strategi dakwah kampus secara umum

Di antara pilihan-pilihan itu, lihatlah mana yang lebih kuat korelasinya dengan mempertahankan prinsip dan pilihan mana yang lebih merefleksikan prioritas syar’iyah. Lalu kita juga musti lihat, di antara pilihan-pilihan itu mana yang mempunyai perspektif idiologis, mana yang hanya politis, mana yang teknis, dan mana yang pragmatis. Dalam hal mencapai tujuan dakwah kampus, kita juga harus lihat jangkauan manfaat yang mungkin dicapai dari pilihan-pilihan itu, mana yang lebih luas manfaatnya. Lalu lihat juga mana yang lebih didukung oleh ketersediaan informasi sehingga kita bisa “well informed� dan “sound-perception� (tassawur yang tepat). Perlu juga dipertimbangkan mana yang lebih didukung dengan kemampuan atau kafaah untuk komitmen dan konsisten dalam opsi yang dipilih. Dan yang paling penting, pilihan mana yang lebih sesuai dengan tabiat marhalah perjuangan dan kerja da’wah.

Sebagai gambaran, dalam dakwah kampus ada tiga arena yang dilakoni oleh struktur dakwah kampus, yaitu arena da'awi, arena siyasi, dan akademik/profesi. Ketiga arena tersebut merupakan peran dan fungsi mahasiswa. Kalau dilihat dari sudut pandang individu, seorang aktivis dakwah kampus harus tawazun antara peran da'awi, peran siyasi, dan peran akademik tersebut. Artinya, seorang aktivis dakwah kampus, sejatinya harus memiliki kemampuan dakwah dan tarbiyah, kemampuan mengusung perubahan di tengah-tengah masyarakat (khususnya masyarakat kampus), tanpa mengurangi prestasi akademik. Bahkan kalau perlu justru meningkatkan prestasi akademik, karena sejatinya dakwah itu adalah teladan.

Tapi secara kelembagaan, sebuah struktur dakwah kampus ada tahapan yang harus dilalui dalam menyeimbangkan ketiga hal tersebut.

Tahapan pertama yang harus dilalui adalah penetrasi dalam peran da'awi, artinya kaderisasi dan pembinaan sangat ditekankan pada sebuah struktur dakwah kampus yang baru berdiri. Rekrutmen-rekrutmen lebih banyak dilakukan dengan dakwah fardhiyah. Pada tahap ini, dakwah kampus juga harus berupaya memunculkan simpatisan yang loyal terhadap personil aktivitas dakwah kampus. Fungsi mahasiswa yang lebih diutamakan adalah fungsi da'awi, artinya mencetak kader-kader robbani yang muntijah sangat prioritaskan di tahap ini. Sedangkan aktivitas dakwah yang lebih diutamakan adalah aktivitas pelayanan dan aktivitas da'awi.

Jika sudah matang, maka dakwah kampus baru bisa beranjak kepada tahap selanjutnya. Untuk membahas mengenai hal ini, perlu kajian tersendiri. Pada intinya, ada tahapan yang harus ditempuh untuk menuju dakwah kampus yang matang. Dan itu tidak terlepas dari prinsip manajemen prioritas. Tahapan-tahapan tersebut harus dipegang teguh oleh aktivis dakwah kampus dan lembaganya dalam menjalankan roda dakwah di kampus.


Prinsip Prioritas dalam Aktivitas Sehari-hari di Dakwah Kampus

Dalam aktivitas sehari-hari di kampus, akan ada banyak alternatif yang terpampang di depan mata kita, yang harus dipilih dan diutamakan salah satu diantaranya.

Sebagai gambaran, misalnya dalam hal pengelolaan isu-isu, baik itu isu di kampus maupun eksternal kampus. Dakwah kampus harus mampu memilih isu mana yang harus diprioritaskan. Selain itu dalam hal program kerja, biasanya ada program kerja yang harus didahulukan dari program kerja lainnya. Hal ini berkaitan dengan pengendalian dan pengotrolan program kerja. Dalam menetapkan program kerja juga harus dipikirkan mengenai porsi-porsinya, porsi mana yang harus diperbesar antara tabligh, ta'lim ataukah takwin/tarbiyah.


Kendala-kendala

Penerapan prinsip aulawiyat bukan tanpa kendala. Ada beberapa kendala yang menyebabkan manajemen prioritas ini menjadi kacau balau. Kendala-kendala tersebut antara lain adanya penyakit diri, misalnya hawa nafsu yang diperturutkan, adanya urusan duniawi yang mendominasi, atau tidak mau mengeluarkan biaya. Kondisi kultural setempat kadangkala juga mempengaruhi hal ini. Selain itu juga disebabkan adanya konspirasi eskternal yang menginginkan agar cahaya dakwah ini padam.

Demikianlah kajian singkat mengenai manajemen prioritas dalam dakwah kampus. Semoga dapat memberikan pencerahan agar dakwah kampus dapat berjalan dengan baik.[]

Labels:

Tahapan Pengembangan Lembaga Dakwah Kampus ( LDK )

Tahapan dakwah bisa di ibaratkan sebuah anak tangga menuju sebuah hasil. Berpegang pada tahapan ini membuat segala yang kita lakukan menjadi terarah. Tahapan ini tidak dibatasi oleh waktu, akan tetapi tahapan ini merupakan tahapan dimana ada kriteria yang harus dipenuhi sebelum memasuki tahapan selanjutnya. Sehingga bisa saja dalam salah satu tahapan setiap LDK menghabiskan waktu yang berbeda. Apa saja tahapan dakwah yang ada ? dalam tulisan ini saya akan mencoba memaparkan 4 tahap yang bisa dilalui.




Tahap Pertama: membangun basis kader inti

Dalam risalah dakwah yang Rasul ajarkan, sebagaimana kita ketahui ada golongan yang pertama masuk Islam atau kita kenal dengan Ashabiqunal Awwalun. Golongan pertama ini dibina dengan intens oleh Rasul dalam rangka menguatkan fondasi terdalam dan paling bawah dari bangunan Islam. Bisa kita cermati sirah nabawiyah, Rasul mendidik Sahabat ini selama 10 tahun, atau hampir setengah dari masa kenabian beliau, yakni 23 tahun. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul. LDK pun akan melakukan hal yang sama, dengan tentunya waktu yang harus lebih cepat, karena kondisi dakwah kampus yang relatif singkat.

Kaderisasi yang dilakukan pada kader inti ini bersifat khusus dan terbatas, sehingga betul-betul segala yang dibutuhkan untuk dakwah kedepannya diharapkan bisa dimiliki oleh kader inti ini. Hal –hal apakah yang harus dimilki ? dalam hal ini ada 3 kebutuhan utama yang perlu dimiliki.

1. Kepribadian seorang Muslim

kepribadian ini meliputi karakter-karakter yang diperlukan seseorang dalam kehidupannya agar ia bisa menjalankan Islam dan mengajarkannya. Seorang kader inti harus memiliki aqidah yang bersih, ibadah yang benar, akhlak yang baik, tubuh yang sehat, kemampuan menghasilkan atau kuat secara ekonomi, pikiran yang intelek, bersungguh-sungguh dan tekun dalam segala hal, memiliki manajemen diri yang baik, disiplin akan waktu serta mempunyai paradigma untuk selalu bermanfaat bagi orang lain. Dengan adanya kepribadian ini diharapkan seorang kader inti bisa menjadi teladan, bisa menjadi guru dan diterima di kalangan masyarakat luas.

2. Kredibilitas dan Moralitas Pemimpin

Islam mendidik para umatnya untuk menjadi pemimpin bagi dirinya dan kalangannya. Dalam hal ini seorang kader inti, diharapkan bisa menjadi pemimpin dimanapun dia berada dalam rangka mengubah kondisi umat yang dipimpinnya menjadi lebih baik. Bukan untuk kekuasaan semata. Akan tetapi paradigma dakwah dan paradigma memberikan cahaya Islam di muka bumi harus terinternalisasi dengan baik di hati kader inti. Menjadi pemimpin adalah sebuah keniscayaan bagi seorang muslim. Sehingga dalam tahap ini seorang kader inti harus dididik bagaimana menjadi pemimimpin yang kuat dan bertanggung jawab. Seorang pemimpin yang bisa mengayomi seluruh umatnya, seorang pemimpin yang bisa menjadi ulama dan umara dalam waktu bersamaan.

3. Kemampuan khusus lainnya

Setiap manusia dilahirkan dengan potensi , minat , dan bakat yang berbeda. Ada seorang yang ahli dalam hal seni, ada seorang yang mahir berdagang atau saat ini kita kenal dengan entrepreneur, atau ada yang ahli dalam olahraga, dan sebagainya. Kemampuan khusus ini haruslah dikembangkan dengan bijak dan tepat, karena potensi seseorang jika dikembangkan akan jauh lebih cepat dan pesat perkembangannya. Seorang kader inti sebagaimana Rasul juga mendidik sahabatnya , juga memiliki kekhasan tersendiri. Sebutlah Ali bin Abi Thalib yang cerdas dan gemar menuntut ilmu, Umar bin Khattab yang ahli bermain pedang, Mushaf bin Umair yang menjadi pedagang sukses, dan sahabat lainya, yang memiliki potensi besar dan digunakan dengan baik dalam pemanfaatannya untuk kebutuhan dakwah. Seorang kader inti yang ahli dalam seni, bisa jadi dikembangkan dan bisa menjadi kekuatan dalam mengemas dakwah yang lebih komunikatif, seorang yang gemar berolahraga dikembangkan potensinya dalam rangka untuk sebagai duta dakwah diantara para masyarakat yang gemar berolahraga, seorang yang gemar berbisnis, didukung aktifitas bisnisnya agar mampu mendorong perkembangan dakwah dengan kekuatan yang dimiliki.

Pendidikan kader inti ini menjadi tahapan pertama dan menjadi fondasi yang akan menopang agenda dakwah kedepannya. Sehingga perlu dicermati dan ditelaah juga berapa banyak kader inti yang akan ada dan dibina.Pembinaan ini juga harus komprehensif dengan waktu yang tepat. Dengan harapan bisa menjadi core dalam membangun basis massa simpatisan.

Tahap Kedua : membangun basis massa

Setelah terbentuk kader inti , dakwah akan masuk di tahapan selanjutnya, yaitu membangun basis massa. Seringkali kita kenal istilah simpatisan, kurang lebih seperti itu yang akan kita bangun, akan tetapi tidak sekedar massa yang hanya mengatakan mendukung, akan tetapi massa yang senantiasa mengikuti pembinaan yang dilakukan oleh kita. Tujuan dari membangun massa ini adalah memperkenalkan Islam, dan menjadikan Islam sebagai way of life. Islam yang komprehensif dan menjadi solusi dalam kehidupan. Ada dua metode utama dalam memperkenalkan Islam ini.

1. Dakwah dengan melayani

Menilik sirah nabawiyah, proses yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah menjadikan beliau Al Amin setelah itu mengangkatnya sebagai Rasul. Dalam hal ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa Rasul telah sukses melayani kota mekah sehingga beliau diberi gelar tersebut barulah beliau berdakwah, pelayanan dahulu baru dakwah. Memberikan apa yang umat butuhkan, memang butuh kita sadari bahwa kebutuhan umat sangat variatif, akan tetapi justru di situlah seni bagaimana kita bisa membuktikan bahwa Islam bisa sebagai solusi dalam segala permasalahan yang ada. Jika kita membicarakan dakwah kampus, maka yang kita berikan haruslah sesuai dengan kebutuhan, sebutlah menyediakan informasi tempat tinggal yang murah dan nyaman, memberikan pelayanan fotokopi buku atau bahkan menyediakan buku kuliah dan catatan kuliah, menyediakan tempat bertanya terkait Islam dan syariatnya, memberikan informasi dalam bentuk tulisan, booklet tentang kampus, kota , dan lain sebagainya. Pelayanan ini bisa sangat variatif pula bentuknya sehingga semakin banyak yang memikirkan ini akan semakin banyak varian metode dakwah yang bisa digunakan.

2. Dakwah dengan memimpin

Jika konsep dakwah sebelumnya dengan tipikal menyentuh grass root. Dakwah dengan memimpin adalah pendekatan yang lebih struktural. Walau sebenarnya tidak sekaku itu dalam pelaksanaanya. Dengan memimpin dalam sebuah kelompok, mulai dari kelompok kecil seperti ketua kelompok tugas, ketua kelas, ketua lomba riset hingga ketua kelompok yang lebih besar seperti ketua himpunan mahasiswa, ketua panitia dan sebagainya. Dengan memimpin ini seorang kader bisa menunjukkan bagaimana etos kerja yang dimilkinya bisa membawa kelompok tersebut kearah keberhasilan dan kearah lebih baik. Dalam memimpin ini seorang kader juga bisa berdakwah secara kecil-kecilan dan menanamkan kultur Islam di dalam kelompok. Seperti membiasakan shalat tepat waktu, memulai segala sesuatu dengan niat dan do’a, membiasakan berdo’a kepada Allah dalam setiap keadaan, dan memberikan sebuah nilai-nilai lainnya kepada objek dakwah. Sehingga timbul personal trust seseorang kepada kita , dan menilai bahwa kader kita adalah seseorang yang kuat dan bertanggung jawab, serta mulai meyakini bahwa pola hidup atau way of life yang dilakukan dan dianut oleh kader kita adalah sebuah pemahaman yang baik. Harapan yang bisa timbul adalah kedepannya ada kepercayaan yang ada di masyarakat, dan ketika kader kita menyampaikan risalah Islam, tidak terjadi penolakan diantara masyarakat atau bisa dikatakan objek dakwah kita menerima apa yang akan kita sampaikan.

Setelah menjalani dua varian metode ini, dakwah ini juga butuh sebuah wadah yang bisa menampung simpatisan ini untuk mengikuti pembinaan dan menjadi bagian dari massa kita juga. Wadah ini diharapkan bisa menjadi media yang tepat dalam mengembangkan potensi simpatisan ini agar selanjutnya bisa menjadi kader dakwah pula. Sistem permentoringan atau dalam istilah lain kita kenal dengan usrah atau liqo’ atau halaqoh menjadi wadah yang sangat tepat untuk menampung dan membina para objek dakwah ini. Mentoring adalah proses transfer nilai antara mentor dan binaanya. Dalam proses mentoring ini seorang mentor diharapkan bisa membina 7-10 adik mentor atau binaanya dan memberikan ilmu serta pemikiran yang ada dalam rangka membuat frame berpikir yang Islami. Proses mentoring ini tidak hanya sampai pada tahapan memberikan ilmu, akan tetapi lebih lanjut, mentoring ini bisa menjadi sebuah keluarga kecil bagi para anggotanya. Oleh karena itu makan seorang mentor diharapkan bisa memilki beberapa fungsi ,antara lain :
  1. Guru, seorang guru yang memberikan ilmu kepada muridnya
  2. Pemimpin, seorang pemimpin yang bisa mengarahkan binaanya menuju masa depan yang sesuai dengan koridor yang benar
  3. Kakak/Sahabat, sebagai tempat mencurahkan isi hati dikala susah dan butuh bantuan
  4. Da’i, dimana seorang mentor tidak hanya memberikan ilmu, akan tetapi juga menyiapkan binaanya untuk menjadi calon mentor di masa yang akan datang

Proses dalam mentoring ini bisa dengan mudah terus bertambah, dan bercabang hingga tidak terbatas, kader inti yang telah dibina sebelumnya sebisa mungkin menjadi mentor utama, dan diharapkan bisa mengembangkan cabang dan ranting kelompok mentoringnya hingga tak terbatas. Disinilah bagaimana kita akan menguatkan basis massa, basis massa yang kuat akan menopang dakwah ini dan memudahkan langkah kita untuk mebuat gerakan dakwah kita lebih terbuka dan masif.

Tahap ketiga: membangun basis institusi

Pada tahap ini dakwah yang dilakukan di kampus sudah mulai terlembagakan secara formal dan wajar dalam sebuah instansi dakwah bernama Lembaga Dakwah Kampus ( LDK ). LDK disini dibangun atas kebutuhan dan tuntutan dari basis massa yang ada, karena bagaimana pun sekelompok orang atau komunitas yang mempunyai tujuan perlu dilembagakan secara formal agar gerak dakwah menjadi lebih mudah dan legal. Perlu dipahami bahwa dengan mengikuti tahapan yang ada, pembangunan LDK ini menjadi lebih kepada kebutuhan alamiah ketimbang memaksakan pembangunan LDK. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memulai melegalkan dan mendirikan LDK ini.

a. Basis Massa yang Setia

Dalam membuat sebuah lembaga di kampus, biasanya memerlukan quota minimal untuk mendirikannya. Quota minimal ini selain untuk memenuhi syarat birokrasi , juga untuk memastikan agar regenerasi dakwah yang ada dapat berjalan. Keberadaan basis massa ini diharapkan terdiri dari berbagai angkatan yang masih ada di kampus. Selanjutnya basis massa inilah yang akan menjadi bangunan yang kokoh dalam mengembangkan LDK di masa yang akan datang.

b. Birokrasi Kampus yang Mendukung

Perlu dipahami bahwa keberadaan LDK tidak bisa terlepas dari kampus dan tata tertib serta birokrasi yang ada di dalamnya. Pendekatan personal ke pihak rektorat, dosen, dan birokrasi kampus lainnya adalah sebuah tuntutan yang perlu kita penuhi agar proses legalisasi ini bisa berjalan mulus. Pendekatan ini dilakukan sejak kita mempunyai basis massa, agar ketika jumlah massa yang dimiliki cukup, pendirian LDK menjadi lebih mudah.

c. Bentuk Lembaga Dakwah Kampus

Menurut pengamatan saya ada beberapa bentuk yang bisa di ajukan sebagai wadah legal formal LDK. Bentuk LDK yang pernah ada antara lain.

  • Pertama, LDK sebagai unit kegiatan mahasiswa, dimana LDK sebagai unit kerohanian, ini adalah bentuk ideal dan paling diharapkan bisa terbentuk.
  • Kedua, LDK dengan bentuk Dewan kesejah-teraan Masjid, bentuk LDK seperti ini, jika ternyata sudah ada LDK lain di kampus, atau pihak birokrasi ternyata tidak setuju dengan adanya LDK.
  • Ketiga , LDK berada di bawah Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ), LDK ini berada di bawah departemen kerohanian di BEM.
  • Keempat, Jika ternyata sudah ada LDK lain yang kuat, pergerakan dakwah ini bisa dengan membangun basis lembaga dakwah di Fakultas, dengan bentuk LDF, perlu disadari bahwa massa real yang ada kampus berada di fakultas, dan dengan adanya lembaga di fakultas ini daya rangkul kader kita akan lebih optimal.
  • Kelima, Jika ternyata, di kampus sudah ada LDK lain, yang mungkin kurang begitu aktif, dan pihak birokrasi tidak mengizinkan adanya LDK lagi, maka proses infiltrasi ke LDK yang sudah ada menjadi pilihan. Dengan basis massa yang sudah kuat dan setia, kader kita bisa saja secara bertahap mengisi pos-pos yang ada di LDK tersebut, hingga suatu saat ketua LDK beserta jajaran tim intinya adalah kader kita yang punya pemikiran dan gerak dakwah yang sesuai, memang butuh waktu lama akan tetapi, pola ini akan lebih “cantik” dan “apik”.

Setelah Lembaga ini terbentuk perlu dipenuhi beberapa syarat kelengkapan lembaga agar fungsi lembaga dakwah ini bisa optimal. Kelengkapan ini antara lain.

Pertama, Adanya tata organisasi yang sesuai, adanya ketua,sekretaris, bendahara, dan ketua departemen . Untuk LDK mula, departemen yang dibutuhkan antara lain, departemen kaderisasi, departemen syiar dan pelayanan kampus, serta departemen dana. Tiga departemen ini bisa dikatakan kebutuhan dasar sebuah LDK. Dengan pertimbangan jumlah SDM yang terbatas, adanya tiga departemen ini seharusnya bisa menjalankan fungsi LDK dengan baik. Dalam perkembangannya, sebuah LDK diharapkan bisa memenuhi beberapa fungsi lainnya yang menjadi fungsi pokok ( sektor dakwah ) dan diturunkan dalam bentuk departemen, yakni :

  1. Sektor Internal ( kaderisasi, mentoring, rumah tangga )
  2. Sektor An nisaa / Kemuslimahan
  3. Sektor Syiar dan Pelayanan Kampus ( media, event )
  4. Sektor Keuangan
  5. Sektor Jaringan ( Humas )
  6. Sektor Akademik dan Profesi
  7. Sektor Kesekretariatan ( administrasi, Litbang )

Tujuh sektor ini adalah representatif dari bentuk serta fungsi yang harus dipenuhi LDK dalam keadaan ideal. Memang butuh waktu dalam membangun LDK hingga tahap ini, akan tetapi bisa saja dalam proses perkembangan LDK , dua fungsi bisa digabung dalam satu departemen. Tergantung dari kapasitas dan kuantitas kader yang ada.

Kedua , Diperlukannya sebuah tata nilai dan tata hukum atau pedoman dakwah yang diberlakukan di sebuah organisasi termasuk LDK. Kebutuhan pedoman dakwah ini, antara lain Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Visi dan Misi serta perangkat sederhana lainnya yang bisa membuat kader kita terarah dalam menjalankan gerak dakwahnya. Seiring waktu, sebuah LDK juga perlu memiliki pedoman dakwah yang lebih advance, ada beberapa contoh disini, Saudara kita di SALAM UI mempunyai Manajemen Mutu SALAM UI (MMS UI), dimana di dalamnya terdapat berbagai aturan dan norma serta standarisasi yang digunakan dalam pengelolaan LDK. Kawan-kawan di UNDIP, memiliki sebuah komitmen bersama antara LDK dan LDF sehingga gerak dakwah LDK dan LDF menjadi sinergis, di GAMAIS ITB, kami memiliki Pedoman Lembaga Dakwah Kampus GAMAIS ITB ( PLDK GAMAIS ITB ), dimana di dalam nya terdapat blue print GAMAIS ITB 2007-2013, Rencana Strategis Jangka Panjang 2008-2010,dan Panduan Fiqih Praktis Aktifis Dakwah. Berbagai bentuk yang ada disesuaikan tergantung kebutuhan dari LDK, semakin besar LDK, semakin detail pula aturan yang ada, karena dalam tahapan kemandirian LDK, sistem lah yang akan dibangun, karena dengan sistem yang kuat, akan menghasilkan kader yang kompeten pula di masa yang akan datang.

Ketiga, Adanya mekanisme kaderisasi berkelanjutan bagi kadernya. LDK adalah lembaga kaderisasi, sehingga fungsi kaderisasi atau membina kader menjadi fungsi utama, dan harus senantiasa menjadi dinamo yang tidak kenal henti. Sebuah lembaga yang baik haruslah memberikan kemanfaatan bagi kadernya. Meningkatkan kapasitas serta keilmuan yang bisa menunjang aktifitas kader di LDK maupun di kehidupan sehari-hari. Ini menjadi syarat yang mutlak untuk memastikan sistem regenerasi LDK ini bisa berkelanjutan dan membuat dakwah kita di kampus bisa bertahan lama.

Tahap Keempat: Membangun bangunan kampus secara keseluruhan dengan konsep Islam


Legalitas LDK yang ada memudahkan gerak dakwah kita menjadi lebih dinamis dan bebas. Kekuatan formal lembaga ini memberikan banyak kemudahan bagi kita untuk berbuat lebih di kampus. Pada tahap keempat ini varian metode dan objek dakwah semakin luas, dan bisa dikatakan tidak terbatas, semua tergantung manajemen kreatiftas dan inovasi dari kader LDK. Lingkup dakwah pertama yang harus dipenuhi adalah civitas akademika di kampus kita. Selanjutanya bisa meningkat menjadi lingkup Kota lalu nasional, dan Internasional. Pada lingkup civitas akademika ini ada beberapa stakeholder yang bisa kita lakukan pendekatan dakwah.

- Mahasiswa, objek utama dalam dakwah kampus kita,

ketika lembaga sudah ada, metode dakwah bisa kian variaif. Pembuatan event syiar, seperti ta’lim, tabligh, outbound, kajian, olahraga bareng atau mungkin mabit. Media LDK juga bisa semakin terbuka, seperti pamflet, poster, spanduk, baligo, atau perangkat multimedia lainnya. Dengan adanya lembaga yang legal, agenda syiar pun seharusnya akan mendapat respons lebih dari massa kampus. Akan tetapi walaupun sudah ada lembaga yang formal, metode dakwah dengan pelayanan, dakwah dengan memimpin serta wadah mentoring yang ada harus tetap dijalankan. Karena ini merupakan metode klasik yang masih bisa digunakan sampai kapanpun.


Dosen

dakwah ke dosen butuh pendekatan yang lebih persuasif, cara dakwah ke dosen bukan dengan menceramahinya akan tetapi dengan memberikan kesempatan kepada beliau untuk mengisi di acara-acara LDK sesuai dengan kompetensinya atau melibatkan dosen dalam kegiatan seperti sebagai penasihat atau tempat konsultasi. Selain itu memberikan sedikit kenang-kenangan kepada dosen, seperti buku, bisa menjadi media dakwah yang tepat untuk dosen, karena dosen biasanya gemar membaca. Dengan adanya keterlibatan ini, dosen akan mempunyai sense of belonging terhadap LDK dan akan lebih peduli terhadap gerak dakwah kita dan LDK kita.


Birokrasi kampus

pendekatan ke birokrasi kampus hampir sama dengan pendekatan ke dosen. Akan tetapi bisa ditambah dengan silahturahim rutin dalam rangka meningkatkan kedekatan dan kepercayaan satu sama lain. Dengan kedekatan dan kepercayaan ini, gerak dakwah kita akan lebih di dukung dan bisa lebih cepat berkembang.


Karyawan Kampus

karyawan dalam hal ini ada elemen administrasi kampus, satpam, penjaga kantin, merupakan bagian dari kampus yang perlu kita dakwahi. Keteladanan kita, budi pekerti serta akhlak yang baik serta dikenal sebagai mahasiswa yang bermoral menjadi metode dakwah yang bisa digunakan, dukungan dari karyawan kampus ini biasanya juga akan mendukung dakwah secara umum. Karena jumlah mereka yang banyak dan punya peran di kampus. Selain itu, pengadaan ta’lim khusus karyawan atau mungkin memberikan bingkisan untuk mereka di momen tertentu bisa menjadikan kedekatan kita dengan mereka lebih erat.

Pengamatan saya menilai tidak ada metode dakwah yang terbaik diantara metode dakwah di berbagai kampus, yang ada adalah metode dakwah yang tepat. Setiap kampus mempunyai kekhasan tersendiri, dan menjadi tanggung jawab bagi kita untuk bisa mengformulasikan metode dakwah yang paling tepat untuk kampus kita. Berpegang pada tahapan ini, akan sangat membantu paradigma berpikir kita dalam mengembangkan Lembaga Dakwah Kampus.


**************************************

Tulisan ini ditujukan untuk semua aktifis dakwah di Indonesia
Terutama untuk saudara ku yang sedang berjuang membangun LDK
Untuk saudaraku yang sedang berjuang menguatkan LDK
Untuk saudaraku yang akan mempercepat pertumbuhan LDK di wilayahnya
Dari LDK mula, LDK muda, LDK madya, dan hingga LDK mandiri


============================
Ditulis oleh :
Ridwansyah yusuf achmad
Kepala LDK GAMAIS ITB
http://ridwansyahyusuf.blogspot. com
yusuf_ahdian@ yahoo.co. id
ridwansyahyusuf@ gamais.itb. ac.id
=============================

tulisan ini boleh disebarluaskan secara bebas dengan mencantumkan identitas penulis (right to copy)
Semoga bermanfaat

Labels:

DAKWAH FARDIYAH DI KAMPUS

Files under Dakwatuna | Posted by musyarof

Sosok aktifis dakwah kampus hendaknya memiliki kemampuan daya rekrut yang tinggi. Bagi para pelajar, mahasiswa dan dosen kita, daya rekrut ini hendaknya terus-menerus ditingkatkan dengan berbagai jalan. Salah satunya adalah dengan dakwah fardiyah yang intensif terhadap pelajar atau mahasiswa yang berpotensi di kampusnya masing-masing.

Dakwah fardiyah di kampus sebenarnya tidak jauh berbeda dengan dakwah fardiyah untuk masyarakat umum. Bahkan di sini kita mendapat kesempatan yang lebih luas untuk melakukan pendekatan ilmiah melalui buku-buku, studi Islam, kegiatan-kegiatan Islam, dan lain-lain. Pendekatan yang diberikan hendaknya juga sesuai dengan bidang yang diminati mad’u.


Dakwah fardiyah hanya merupakan satu dari sekian banyak uslub dakwah yang efektif untuk melakukan pembinaan. Pada prinsipnya, Islam membuka jalan selebar-lebarnya bagi perkembangan uslub dakwah ini, sepanjang tidak menyalahi metode yang bijaksana dan pengajaran yang baik.

Firman Allah: “Serulah ke jalan Allah dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang baik”. (QS An Nahl 125).

Rasulullah bersabda: “ Tidaklah seharusnya orangmenyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar kecuali memiliki tiga sifat, yakni lemah lembut dalam dalam menyuruh dan melarang (mencegah), mengerti apa yang harus dilarang dan adil terhadap apa yang harus dilarang”. (HR Dailami)

Dakwah fardiyah mempunyai akibat dan kesan yang baik pada pada mad’u, karena mad’u terkontrol sepenuhnyaoleh seorang aktifis dakwah. Selain itu dakwah fardiyah merupakan jembatan antara dakwah aamah dan takwiniyah. Ia dilakukan pada tahap permulaan untuk dakwah aamah dan ditahap pertengahan untuk pengkaderan.

Langkah-Langkah Dakwah Fardiyah Di Kampus

Inventarisasi Potensi

Langkah penting dalam memulai dakwah fardiyah di kampus adalah menginventarisasi potensi kampus. Gunanya untuk memetakan sasaran dakwah yang akan dilakukan. Inventarisasi ini dilakukan bersama-sama dengan aktifis dakwah kampus lain di kampus tersebut. Bisa juga dengan melibatkan mereka yang kenal dengan kondisi kampus seperti para alumni, guru, dan sebagainya, dengan tanpa menimbulkan kecurigaan dalam pengumpulan datanya.

Inventarisasi potensi bisa pula memanfaatkan data-data statistik yang ada pada sekolah, jurusan, fakultas, atau universitas yang bersangkutan. Ini dilakukan minimal setiap pergantian semester, terutama pada saat penerimaan pelajar dan mahasiswa baru. Agar efektifnya kegiatan ini, hendaknya para aktifis dakwah kampus yang ada dalam suatu kampus/sekolah mengadakan pertemuan rutin.

Memilih Mad’u

Bila aktifis dakwah kampus telah mengenal kondisi medan dakwah kampus yang dihadapi, maka ia wajib memilih mahasiswa-mhasiswa yang potensial untuk diadakan pendekatan pribadi. Pilihan dilakukan berdasarkan syuro dalam pertemuan yang melibatkan seluruh aktifis dakwah kampus yang terlibat dalam kampus yang bersangkutan atau lembaga dakwah yang kita bentuk. Yang dimaksud pelajar dan mahasiswa potensial di sini adalah mereka yang memiliki kemampuan penalaran yang tinggi dan mempunyai fitrah yang baik untuk dikembangkan ke arah amal Islami di masa datang walau mungkin saat ini perilakunya belum Islami.

Melakukan Pendekatan

Kita perlu memilih langkah yang tepat untuk merekrut pelajar, mahasiswa atau dosen tersebut. Pendekatan bertujuan untuk membina hubungan baik (silaturrahim) yang kelak akan ditingkatkan pada hubungan dakwah. Kunci dari keberhasilan dakwah ini adalah keteladanan. Keteladanan yang diberikan aktifis dakwah kampus akan memberikan hasil yang maksimal.

Jenis-jenis pendekatan yang bisa dilakukan antara lain:

Pendekatan Jasa

Ini sebaiknya dilakukan di tahap awal dakwah fardiyah. Biasanya para mahasiswa dan pelajar yang baru masuk sangat membutuhkan bantuan dari kakak-kakak kelas mereka (senior) seperti pencarian pemondokan, biaya sekolah, bea siswa, dan sebagainya. Alangkah baiknya bila aktifis dakwah kampus membantu mereka untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas kampus kendati hanya sekedar informasi. Mereka yang memperoleh bantuan ini biasanya merasa sangat berhutang budi dan patuh kepada orang yang menolongnya sehingga mudah didakwahi.

Pendekatan Ilmiah

Dengan memberikan bimbingan pelajaran yang diperlukan oleh mereka yang kita arahkan. Ini bisa dilakukan dengan tentir-tentir dalam berbagai mata kuliah atau mata pelajaran tertentu yang biasanya dianggap sulit. Dalam bimbingan tersebut, tentu saja kita selipkan hal-hal yang bisa menyentuh fitrah keislaman mereka. Pemberian buku-buku pelajaran, diktat, alat-alat praktek, dan sebagainya, yang dibutuhkan oleh mereka akan sangat membantu.

Pendekatan Keluarga

Yaitu Pendekatan berdasarkan hubungan famili dengan mad’u yang hendak kitapilih. Misalnya kaka terhadap adik, paman terhadap keponakan, dan sebagainya. Pendekatan ini biasanya cukup efektif.

Pendekatan Kurikuler

Yaitu pendekatan yang memanfaatkan penyelenggaraan kurikulum pelajaran sekolah yang bersangkutan. Bagi para aktifis dakwah kampus yang telah menjadi dosen melalui pelajaran yang diajarkan atau dengan memberi tugas-tugas khusus yang membuatnya lebih jauh berkenalan dengan calon mad’u. para senior bisa memanfaatkan saat-saat OSPEK (Orientasi Pengenalan Kampus) untuk melakukan hubungan dan menawarkan berbagai jasa.

Pendekatan Non Kurikuler

Yaitu pendekatan yang memanfaatkan kegiatan-kegiatan non kurikuler seperti olahraga atau kesenian. Tetapi para da’i hendaknya berhati-hati melakukan pendekatan ini, jangan sampai terperosok pada hal-hal yang laghwi. Para aktifis dakwah kampus yang memiliki keahlian tertentu dapat memanfaatkan keahliannya dalam pendekatan ini. Misalnya seseorang yang mampu melakukan beladiri hendaknya menggunakan beladiri tersebut untuk wasilah dakwah fardiyah ini.

Dalam pendekatan hendaknya tidak terlalu ngotot terhadap orang-orang tertentu yang dianggap potensial. Sebenarnya orang-orang yang mau mengikuti jalan dakwah ini adalah manusia-manusia pilihan Allah. Tidak mustahil orang yang kita anggap potensial ternyata sukar disekati. Bershabarlah dalam melakukan pendekatan karena keberhasilannya sangat tergantung kepada hidayah Allah terhadap seseorang.

Tahapan Dakwah Fardiyah

Bagian terpenting pembahasan ini adalah melakukan dakwah fardiyah kepada mad’u yang telah berhasil didekati. Dalam hal ini perhatikan langkah-langkah berikut:

Memperkenalkan mad’u dengan kebesaran Allah, kemuliaan dan keagungan-Nya dalam berbagai segi.

Memperkenalkan mad’u pada kebesaran Allah merupakan langkah awal dari setiap dakwah fardiyah. Pendekatan yang paling tepat untuk ini adalah melalui bidang studi yang digeluti oleh para mad’u. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa para pelajar atau mahasiswa yang punya kecenderungan pada ilmu-ilmu murni mudah didekati melalui disiplin ilmu yang mereka amati. Sementara para pelajar atau mahasiswa yang kecenderungannya ilmu sosial memerlukan penjelasan Islam yang rasional dan menyentuh masalah-masalah fitrah kemanusiaan mereka.

Mad’u dapat kita perkenalkan pada keagungan dan kemuliaan Allah melalui obrolan-obrolan sederhana tetapi memberikan masukan imani ke dalam hatinya. Atau dengan memberikan buku-buku aqidah yang sederhana dengan penjelasan yang menggunakan ayat-ayat kauniyah. Mad’u juga dapat diperkenalkan pada Allah melalui gejala-gejala sosial kehidupan yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Menjelaskan tentang keindahan dan kesempurnaan ajaran Islam.

Setelah pemahaman mad’u tentang kebesaran Allah terbentuk, ia perlu mengerti tentang ajaran Islam. Maka kewajiban selanjutnya adalah menyajikan Islam dalam penampilan yang sebaik-baiknya. Islam yang difahamkan kepada mad’u hendaknya merupakan prinsip-prinsip dasar, jauh dari ikhtilaf yang ada pada kaum muslimin. Yang paling penting bagi mad’u di kampus adalah segera memahami aksioma (albadihiyat) dalam islamdan melihat keselarasan Islam dengan sunah kauniyah (sunnatullah di alam semesta). Jauhkan mad’u dari memandang Islam secara sempit atau sukar dipelajari karena terlalu banyak atribut. Bila upaya ini berhasil, rincian Islam akan ia pelajari sendiri dengan bimbingan kita.

Di tahap ini, dakwah aamah biasanya memberi peran yang besar dalam menimbulkan perubahan pada diri mad’u. Karena itu untuk lebih menyempurnakan interaksi mad’u dengan Islam, hendaknya mereka mulai dibawa pada kegiatan Islam di kampus seperti mendengarkan ceramah, diskusi keislaman, dan sebagainya yang bersifat teoritis.

Mengadaptasikan mad’u pada suasana hidup Islami.

Yaitu dengan membawa mad’u pada kegiatan-kegiatan praktis Islam. Seperti mengikutsertakannya pada rihlah, jambore, wisata Islam, pengkajian tafakur di alam terbuka, dan sebagainya. Bisa juga dengan melibatkan mad’u pada pada kepanitiaan kegiatan dakwah, bazar Islam dan sebagainya. Mad’u hendaknya dilibatkan dalam pembentukan opini Islam yang dibentuk di kampus.

Target yang ingin dicapai pada langkah ini adalah membuat mad’u merasakan kenikmatan suasana Islami yang penuh kekompakan dan persaudaraan. Pada gilirannya ia mempunyai kesimpulan bahwa Islam adalah pedoman hidup yang sempurna dan tidak ada kelemahannya. Dengan demikian mad’u ’kan bangga dengan Islam dan mulai mengislamisasikan dirinya atau memperlihatkan identitas Islam dalam penampilannya sehari-hari.

Membimbing mad’u dalam beribadat dan mendekatkan diri kepada Allah

Kita perlu memperbaiki hubungan mad’u dengan Allah dengan memberikan penjelasan-penjelasan praktis tentang ibadat seperti sholat, membaca Al Qur’an, melakukan shoum sunnah dan sebagainya. Beberapa hukum fiqih yang sederhana hendaknya mulai diperkenalkan kepada mad’u. Dengan memberikan buku yang praktis atau dengan memb erikan contoh langsung. Tetapi kita harus menghindarkan mad’u pada bentuk-bentuk ikhtilaf yang membawa pada perpecahan.

Sekarang ini banyak mahasiswa memerlukan perbaikan dalam membaca Al Qur’an tetapi enggan belajar karena tidak ada pembimbing. Banyak pula mahaiswa yang ingin melakukan sholat tetapi tidak mau mengerjakan karena tidak ada yang membimbing.

Setelah langkah keempat ini tsiqoh mad’u akan semakin meningkat, di saat itulah kita bisa melakukan kegiatan untuk mengarahkan mad’u pada kegiatan dakwah khusus atau pengkaderan.

Mengantar mad’u untuk memperdalam ajaran Islam dalam halaqoh-halaqoh tarbiyah.

Kita mulai mengajak mad’u untuk mengikuti mukatsaf tentang islam atau mendorongnya belajar kepada seorang ikhwah yang mampu membina. Memungkinkan, ia bisa dibina sendiri oleh kita dalam halaqoh. Pembinaan yang sifatnya umum hanya sampai ke peringkat ini, selanjutnya mad’u diperkenalkan kepada dakwah yang lebih syamilah. Tentu saja melalui proses pemilihan yang selektif.

Dari langkah ini, tampaklah kesinambungan dakwah umum dengan pembinaan yang kita lakukan. Dakwah fardiyah berfungsi sebagai pengantar bagi aktifitas dakwah yang lebih mendalam.

http://www.musyarof.net

Labels:

BAGAIMANA BERDAKWAH DI KAMPUS

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk. ( QS:Al-Kahfi 13)

Pengantar
Para pemuda dan pemudi merupakan sasaran dakwah yang paling potensial. Mereka berada dalam usia yang penuh vitalitas dan semangat yang dibutuhkan Islam untuk melakukan perombakan ummat. Diantara generasi muda ini, para pelajar dan mahasiswa merupakan potensi terbesar bagi dakwah dan gerakan Islam. Karena itu adalah wajar bila dakwah memprioritaskan pembinaan mereka sebelum pembinaan kelompok lainnya.


Dalam dakwahnya, Rasulullah menjadikan para pemuda sebagai sasaran dakwah yang utama. Beliau juga menjadikan para pemuda yang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi di masyarakat sebagai sahabat-sahabat Beliau. Dalam tahapan dakwah awal di Mekkah, tidak ada satu sahabat Beliau pun yang rendah akalnya atau berusia di atas Beliau kecuali Istri Beliau sendiri, Khadijah al Kubro Rodiyallahu anha. Abu Bakar As Siddiq misalnya adalah seorang ahli sejarah Quraisy, Ali Bin Abi Thalib merupakan remaja yang sangat cerdas dan tangkas, menjadi harapan para pemuka Quraisy. Usman Bin affan terkenal dengtan kepandaiannya dalam berekonomi. Umar Bin Khattab merupakan pemuda berwibawa dengan jiwa kepemimpinan yang menonjol. Saad Bin Abi Waqqash terkenal dengan ketangkasan dan kecerdasannya. Sahabat yang lain, kendati tadinya budak seperti Bilal atau Zaid Bin Haritsah, merupakan orang-orang yang memiliki kecerdasan tinggi.

Sikap Rasulullah ini adalah karena Al Qur’an menunjukkan bahwa para pemuda merupakan sasaran dakwah yang potensial dan akan mampu membawa panji perubahan di masyarakat seperti pada kisah Ashabul Kahfi:

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. ( QS:Al-Kahfi 13)

Sebagai generasi muda para pelajar dan mahasiswa memiliki fitrah yang lebih mudah disentuh dengan siraman ruhiyah yang dapat menghasilkan keimanan. Sementara sebagai kalangan intelektual, mereka umumnya memiliki kesiapan untuk menerima Islam sebagai Din Ilmu dan Amal. Lebih dari itu, suasana kampus memberi keleluasaan untuk pengkajian studi-studi Islam. Kebebasan mimbar di kampus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengembangkan dakwah.

Pelajar dan mahasiswa juga terbukti merupakan motor penggerak perubahan masyarakat sepanjang masa. Karena itu pembinaan terhadap mereka perlu mendapat perhatian serius, jangan sampai kita didahului oleh pergerakan yang bathil dan menyesatkan. Kreatifitas dan sifat inovatif mereka merupakan potensi yang penting bagi pergerakan. Itulah sebabnya dalam fiqhud dakwah, merekalah yang paling potensial untuk menjadi anasirut taghyir (unsur-unsur perubah) masyarakat.

Perubahan yang terjadi pada mereka dapat mempengaruhi opini umum masyarakat dan memberi rangsangan bagi kelompok-kelompok masyarakat lain untuk turut berubah. Terbukti misalnya dengan ksus jilbab yang berlangsung pada pelajar SMA umum dan Perguruan Tinggi Umum. Masyarakat menaruh perhatian serius bahkan banyak yang menaruh simpati. Bahkan, diantara kaum wanita umum pun kemudian mulai mengikuti jejak mereka yang berjilbab tanpa canggung atau malu. Yang menggembirakan, sekolah-sekolah Islam yang dikelola kaum muslimin yang tadinya acuh terhadap masalah jilbab, kemudian mewajibkan pelajar-pelajar putrinya berbusana muslimah.

Penerimaan dakwah yang syamilah pun dimulai melalui alur kampus. Bahkan sampai saat ini kegiatan dakwah ini masih berorientasi di sekitar kampus. Memang dakwah tidak boleh terperangkap sebagai gerakan masyarakat kampus tetapi ia tidak bisa menghindarkan diri dari menjadikan para pelajar dan mahasiswa sebagai pelopor-pelopor awalnya.

Manakala dakwah berkembang, maka secara bertahap ia tidak boleh menjadikan kampus sebagai markas utamanya lagi. Kampus hendaknya hanya dijadikan sebagai basis umum pergerakan di kalangan pemuda. Sosialisasi dakwah di luar kampus harus dilakukan dengan memasang strategi dakwah kampus yang sebaik-baiknya sehingga tetap menjadikan kampus sebagai ajang dakwah yang semarak dan pelopor perubahan ummat.

Maka dakwah di kampus bukanlah dakwah takwiniyah tetapi dakwah aamah (harokah zhohiroh), tanpa meninggalkan asholah dalam minhaj tarbiyah.

Dakwah aamah di kampus bertujuan membentuk potensi yang akan menambah elemen kekuatan Islam. Takwiniyah (pengkaderan) hendaknya tetap berlangsung bagi para mahasiswa dan pelajar terpilih. Namun aktifitas dakwah takwiniyah ini tidak boleh tampak kecuali hasil-hasilnya. Kampus harus diwarnai dengan dakwah umum yang digerakkan oleh para mahasiswa dalam pengkaderan kita dan terhindar dari bahaya gerakan haddamah baik dari luar Islam maupun dari kalangan kaum muslimin.

Membawa dakwah zhohiroh ke kampus hendaknya menggunakan skala pemikiran yang lebih luas. Di satu sisi, setiap kampus baik yang umum maupun Islam tetap harus dikuasai, tetapi di lain sisi takwiniyah tidak boleh berhenti.

Untuk mensuksekan dakwah di kampus hendaknya dipersiapkan perimbangan pertumbuhan tiga unsur berikut:

  1. Kader aktifis dakwah kampus yang mampu berdakwah fardiyah. Mereka hendaknya dikhususkan dalam menunjang dakwah zhohiroh dan ditempatkan sebagai anggota tetap masyarakat kampus:sebagai pelajar, mahasiswa, dosen, atau guru misalnya. Atau sebagai ilmuwan/peneliti yang akrab dengan dunia kampus. Mereka hendaknya mampu menjadi pelopor-pelopor aktifitas dakwah zhohiroh, menjadi qudwah dalam amal Islami dan menjadi tonggak-tonggak Islamisasi kampus.
  2. Pengarahan dakwah kampus yang sesuai minhaj, tanpa kehilangan asholah tetapi dapat diterima oleh masyarakat kampus. Ini dilakukan oleh elemen-elemen gerakan dakwah terkait secara hati-hati dan matang, melibatkan aktifis dakwah kampus yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, guru, dosen, serta yang memiliki keterlibatan dengan dunia kampus.
  3. Berbagai organisasi yang menjadi bungkus pergerakan di kampus, berbentuk lembaga atau organisasi. Sarana ini menjadi pos dakwah yang memiliki satu warna yang khas dan diminati oleh para pelajar dan mahasiswa karena kebersihan dan kebaikan penampilannya. Persiapan yang meliputi fasilitas tidak kami singgung dalam pembahasan di sini.

Dengan tumbuh seimbangnya ketiga persiapan diatas, dakwah di kampus Insya Allah dapat terealisir dengan sebaik-baiknya.

Pokok Pembahasan
Karena dalam kampus kita hanya melakukan dakwah umum maka dalam pembahasan ini kita hanya akan membicarakan:

  1. Dakwah Aamah di Kampus ,Memperkenalkan tentang pengertian dakwah aamah serta keadaan kampus pada umumnya.
  2. Pribadi Aktifia Dakwah Kampus, Menjelaskan sifat-sifat yang sebaiknya dimilikioleh para aktifis fdakwah kampus.
  3. Dakwah Fardiyah, Menjelaskan tentang langkah-langkah rekruiting dakwah di kampus serta tahapan-tahapan dakwah fardiyah. Kemudian bagaimana mengajak mad’u ke dalam pengkajian Islam lebih lanjut.
  4. Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Dakwah, Menjelaskan dasar-dasar yang harus diketahui para penyelenggara dakwah di kampus sehingga dapat melakukan kegiatan dakwah mereka dengan sukses.
  5. Untuk Para Mubaligh dan Da’I Kampus, Menjelaskan persiapan-persiapan yang diperlukan seorang mubaligh atau da’i ketika berdakwah di kampus.

Labels: