14 January, 2010

Ketika Aku Menjaganya, Allah Menjaga ku

oleh Gracia Azra Lestari Rabu, 13/01/2010 08:28 WIB | Cetak |

“Ta, hafalannya udah nambah belum?” “Mmm… Mmm… Belum.” Begitu terus pertanyaan papah dan begitu terus jawabanku. Menjaga yang sudah ada saja sulit, begitu pikirku dan aku berusaha untuk muroja’ah saja. Nyatanya untuk muroja’ah saja tanpa ziyadah memang sudah sangat susah.

Aku bukan penggemar seorang Mario Teguh, hanya waktu itu kebetulan televisi yang dinyalakan sedang menayangkan Golden Ways. “Jangan risaukan akan kekurangan-kekurang an kita, tapi maksimalkan kelebihan yang kita miliki walaupun hanya satu bidang.” Saat itu aku berfikir dan menyadari ternyata selama ini aku memang selalu berputar-putar pada kekuranganku. Tanpa pernah memaksimalkan kelebihan yang aku miliki.

Selepas Ramadhan maka mulailah kulanjutkan ziyadahku. Sejak sampai SMU ziyadahku hanya mentok di juz 26. Juz 25 ayatnya mulai susah, kurang familiar, dan panjang-panjang. Mungkin ini karena kurang motivasi saja. Saat kuliah aku ikut lembaga tahfidz qur’an An-Nur. Awalnya diajak oleh senior satu wisma. Sempat pikir-pikir juga sih karena biayanya cukup mahal untuk ukuran anak kos yang jauh dari orang tua.

Ternyata di wisma ada tiga orang senior dan satu orang temanku yang juga ikut, aku jadi semangat karena ada teman. Di An-Nur memang menganjurkan ziyadah mulai dari depan (Al-Baqoroh) . Akhirnya mulailah aku berkutat di Al-Baqoroh. Ayatnya ternyata memang relatif lebih mudah, easy listening rasanya. Dan lagi-lagi hanya mentok di akhir Al-Baqoroh. Karena kesibukan (yang sebenarnya mungkin hanya alasan semata) dan malas saat tiba masanya ujian akhirnya aku berhenti dari An-Nur.

Saat ini aku mulai mencoba untuk ziyadah kembali. Mencoba menaklukan Ali-Imron. Lumayan sedikit-sedikit sambil menunggu pasien. Jika dipikir-pikir memang ternyata lebih sulit. Kali ini bukan terkendala kepada masalah sulitnya ayat, tetapi lebih kepada karena aku berjalan sendiri tanpa seorang hafiz atau hafizoh tempat aku menyetorkan hafalanku seperti dulu.

Tanpa ada standar apakah aku sudah berhak melaju ke jenjang ayat berikutnya atau masih harus terus mengulangnya. Tak ada lagi ujian kenaikan juz, ujian setiap akhir catur wulan, atau ujian tiap periode akhir semester. Semua akulah yang mengontrol. Aku yang harus terus bangkit saat godaan-godaan kemalasan datang menghinggapi jiwa.

Teringat sebuah perkataan dari Ustad ‘Abbas Al-hafiz, semoga Allah senantiasa merahmati dirinya dan keluarganya “Kita dan Al-Qur’an itu seperti satu jiwa, satu nyawa. Rasanya jika kita menyetorkan hafalan kita maka Al-qur’an harus selalu kita pegang karena dengan seperti itu kita akan merasa lancar. Padahal sebenarnya jiwa kita dan Al-Qur’an menyatu jika kita menyetorkan hafalan kita justru tanpa memegang Al-Qur’an. Bila lancar melafalkannya maka disitulah jiwa kita menyatu dengan Al-Qur’an.”

Ada tiga jenis hafalan, dari sinilah kita sesungguhnya bias mengetahui kualitas hafalan kita. Hafalan otak, hafalan mulut, hafalan hati. Pertama; hafalan otak yaitu hafalan Al-Qur’an yang jika kita melafalkannya maka kita butuh konsentrasi penuh, kalau bisa suasana tenang, tidak ada gangguan. Jika kita lupa akan suatu ayat, maka kita akan berpikir keras, meminta clue kepada penyimak hafalan kita berupa arti dari awal ayat atau satu kata dari awal ayat tersebut. Kedua; hafalan mulut yaitu bila kita mampu melafalkan hafalan kita sambil mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Sambil menyapu, memasak, mengepel hafalan itu mengalir dari mulut kita tanpa cela. Ketiga, hafalan hati yang merupakan kualitas hafalan tertinggi.

Cara mengetesnya mudah saja, bangunkan orang yang sedang tidur kemudian langsung berikan satu buah ayat. Jika ia berhasil melanjutkan ayat tersebut tanpa berfikir terlebih dahulu maka hafalannya telah mencapai hafalan hati. Subhanallah… jadi malu, adakah hafalanku yang sudah mencapai hafalan hati?

Setiap orang memiliki cara ziyadah yang berbeda-beda. Namun yang saat ini saya pakai adalah dengan membaca ayat yang akan dihafal tiga kali (kalau malas sedang mendera kadang hanya satu kali) kemudian membaca artinya. Lebih bagus menghafal dengan Al-Qur’an yang ada terjemah kata per katanya (seperti Inayah, Syamiil ukuran besar; bukan promosi lho…) sehingga akan lebih mudah dipahami. Menghafal jadi seperti membaca sebuah kisah indah, bila lupa mudah untuk merecall kembali. Ulang terus hingga benar-benar lancar.

Jika sudah lancar maka ulanglah dari ayat sebelumnya. Begitu juga saat akan melaju ke ayat selanjutnya. Bila telah hafal maka ulanglah dari dua ayat sebelumnya. Untuk juz-juz yang berisi beberapa surat, maka jika telah hafal sebuah surat ulanglah dari surat sebelumnya. Otomatis dengan begitu surat yang paling dahulu kita hafal di juz tersebut akan menjadi yang terlancar bahkan bisa menjadi hafalan hati. Coba saja juz 30, insyaAllah An-Naba-lah yang paling mudah. Sambil merem juga lancar. Di juz 29, Al-Mulk yang paling ok.

Usia pun mempengaruhi daya tangkap kita. Rasanya An-Naba yang dihafal dari SD tidak pernah lupa-lupa tapi yang baruuu saja kita hafal jika tidak kita ulang-ulang saja selama dua hari, langsung deh lupa lupa inget. Apalagi ditambah melakukan maksiat (walaupun menurut ukuran kita hanya maksiat kecil), pasti jadi harus seperti ziyadah ulang. Weleh…weleh… Karena saat kecil (sebelum baligh) kita masih tanpa dosa, berfikir jernih, tidak neko-neko maka ziyadah pun akan lebih mudah.

Tak heran banyak pesantren tahfidz Qur’an yang mencetak hafidz hafidzoh saat usia santrinya setara kelas 6 SD. Subhanallah… Kita memang telah tertutup kemungkinan menjadi hafidz/hafidzoh di usia dini, tapi kelak kita bisa mewujudkan hal tersebut melalui anak-anak kita kelak.

Setiap hafidz hafidzoh memiliki ciri khas yang berbeda saat menyimak hafalan kami. Air mata seakan berlomba turun saat teringat Pak ‘Abbas yang tetap tahu kesalahan murid-muridnya walaupun beliau menyimak hafalan kami seakan tertidur. Pak Masrur yang selalu membenarkan tajwid. Bu Husnul dengan deheman-dehemannya ketika aku salah baca. Atau ketukan-ketukan pulpen di meja yang terdengar saat (lagi-lagi) aku salah baca. Wajah-wajah teduh itu bisakah menjadi wajahku juga?

Kembali teringat saat wisuda di Rafah. Saat para hafidz muda (setara kelas 3 SMU) dipanggil namanya, air mata ini kembali mengalir. Mereka telah mempersembahkan mahkota dan baju emas untuk kedua orang tuanya di yaumil akhir kelak. Bisakah aku?

Salah seorang pasienku hari ini adalah seorang ustad Rafah yang berasal dari Mesir, asli Mesir, dan berbicara bahasa arab. Beliau ditemani oleh ‘Arij (putra dari Ustad Natsir pemilik Pesantren Rafah tempatku saat ini mengabdikan diri) sebagai penerjemah. ‘Arij yang baru saja naik ke kelas 2 SMP, ‘Arij yang masih lucu, ‘Arij yang masih mencium tanganku, berbicara dengan beliau dalam al-lughotul ‘arabiyyah. Itu bahasa ahli syurga kawan, bahasa para penghuni syurga yang wajahnya senantiasa berseri. Anak sekecil itu.

Dan aku kembali malu pada diri ini mengingat pelajaran bahasa arabku yang sangat minim dan banyak lupanya sejak lulus SMU. Ya Allah, bisakah aku memasuki syurga-Mu? Di mana para penghuninya berbicara dalam bahasa Al-Qur’an, bahasa yang sangat indah.
Saat tulisan ini aku buat genap usiaku seperempat abad dan belum sampai tiga minggu aku kembali menggiatkan ziyadahku. Namun aku mendapatkan begitu banyak kemudahan dan keindahan di hari ini. Seperti Allah sedang memelukku.

Padahal aku baru sedikit sekali ziyadah, muroja’ah pun masih belang bentong. Ya Allah berikanlah selalu hidayah-Mu kepadaku, para penghafal dan pemelihara Al-Qur’an agar senantiasa bersama Al-Qur’an saat kami lapang maupun sempit, saat kami senang maupun susah, saat kami kaya maupun miskin, saat kami sehat maupun sakit, dan sepanjang hidup kami. Ya Allah curahkanlah syafa’at-Mu selalu kepada para penjaga Al-Qur’an di yaumil akhir kelak.

Aku ingin mempunyai amalan unggulan dan saat ini ziyadahlah yang aku pilih di saat amalan lain terasa lebih berat (terutama sebagai ibu hamil). Aku ingin janin dalam rahimku turut mendengarnya saat aku ziyadah, turut merasakan nikmatnya ziyadah, dan aku ingin kelak ia menjadi hafidzoh.

Sumber : www.eramuslim.com

shared by :www.perindu-syurga.co.cc


Labels:

05 January, 2010

Tatkala Hati Membeku

MediaMuslim.Info – Pernah nggak kita merenung?, sudah berapa kali kita pernah menangis karena takut pada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, merasa ngeri ketika ingat nerakanya atau terkenang dengan bertumpuk-tumpuknya dosa yang pernah kita lakukan? Sudah berapa kali shalat yang kita kerjakan begitu kita nikmati karena kita bisa merenungi makna-makna ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca?……….

Itu tentu sangat sulit!……. mungkin seperti itu jawaban sebagian dari kita. Pernah nggak kita berfikir apa yang menjadi sebab hal itu. Penyebabnya nggak lain adalah bekunya hati kita yang menyebabkan kita sulit untuk menangis serta tidak bisa khusuk dalam shalat.

Berikut ini adalah beberapa penyebab kebekuan hati yang kita alami. Sehingga kalau kita sudah mengetahui penyebabnya, kita bisa menterapi hati kita yang sudah terlanjur cool banget.

Bergaul yang tidak Berfaedah.
Teman punya pengaruh yang signifikan pada diri kita. Dia akan memberikan warna dalam kepribadian kita. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam memberi perumpamaan. Teman yang tidak baik itu seperti Pandai Besi, andai tidak terbakarpun, minimal kita, yang mau tidak mau pasti mendapatkan udara yang panas. Karena itu kita harus mampu mengendalikan diri dengan baik agar tidak terjebak dalam pergaulan yang tidak bermanfaat.

Berbicara Yang tidak Perlu.
Sering sekali kita membicarakan hal-hal yang kadang-kadang tidak ada manfaatnya, baik untuk dunia maupun akhirat kita. Hati-hati dengan lisan kita, salah omong urusannya berabe. Apakah kita lupa bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan lidah hany satu dan telinga ada dua, dengan tujuan yaitu supaya kita lebih banyak diam untuk mendengar daripada bicara.

Namun kita sangat sering melupakan hal ini apalagi kalau sedang asyik berbicara, kita lupa untuk mendengar. Jadi perlu pengendalian kata agar tidak percuma dan sia-sia. Karena itu kebisaan gossip mesti dikurangi dan dihilangkan…..!!!

Memandang Yang tidak Perlu.
Tidak mengatur pandangan yang kita lakukan akan menimbulkan tiga dampak negatif yaitu; Terkena panah Iblis yang beracun. Oleh karena itu Nabi menyatakan, yang artinya: “Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Alloh maka Alloh akan menggantinya dengan yang lebih baik” (HR: Ahmad). Setan masuk seiring pandangan untuk menyalakan api syahwat. Membuat hati lupa dan menyibukkannya sehingga terjerumus ke dalam mengikuti hawa nafsu dan kelalaian.

Berlebih-lebihan dalam Makan.
Imam Syafi’i rahimahulloh mengatakan: “Selama 16 tahun aku hanya pernah kenyang sekali saja, yang akhirnya kumuntahkan. Karena kenyang itu membuat badan terasa berat, hati menjadi keras, kepandaian menjadi hilang, menyebabkan ngantuk dan membuat orang loyo dalam beribadah”. (diwan Imam Syafi’I hal. 14). Sehingga makan itu sekedarnya saja, kalau bisa jangan sampai kekenyangan. Tidak sehat dan membuat malas.

Tidur yang Berlebihan.
Coba kita renungkan komentar Nabi shalallahu’alaihi wa salam tentang orang yang tidur satu malam penuh, bangun-bangun sudah pagi tanpa shalat malam “Itulah orang yang telinganya atau kedua telinganya dikencingi syetan.” (HR: Bukhari dan Muslim).

Menghina Ulama.
“Daging para ulama itu beracun”, demikian pesan para ulama kita. Terlebih lagi bila kita menghina dan menggunjingkan mereka karena karena ilmu syar’i yang mereka miliki. Jadi sebaiknya kita berhati-hati dalam hal ini.

Tidak Membaca Al Qur’an dengan Merenungi Maknanya.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS: Muhammad: 24).

Orang yang tidak merenungi ayat – ayat Al Qur’an tidak hanya satu atau dua gembok yang mengunci hatinya? Bahkan dalam hati tersebut terdapat banyak gembok. Banyak kan!! Kira-kira ada berapa gembok di hati kita, kalo gitu.

Tidak Merenungi Kematian, Alam Kubur, Surga, dan Neraka.
Nabi memerintahkan kita untuk berziarah kubur, agar kita teringat akan akhirat. Nabi juga memerintahkan untuk banyak mengingat kematian yang merupakan penghancur kesenangan hidup (HR: Abu Daud). Mengapa? Karena mengingat mati adalah mesin penggerak untuk beramal shalih yang ada dalam diri orang beriman.

Tidak Mengkaji Kehidupan Umat Terdahulu Yang Sholeh (Sahabat dan 2 Generasi Setelahnya).
Mereka merupakan manusia terbaik yang dekat dengan masa kenabian. Seluruh keutamaan terkumpul dalam diri mereka. Lihatlah kekhusyua’an mereka dalam shalat, shalat malam mereka, shalat berjamaah mereka, bhakti mereka kepada orang tua, zuhud mereka, antusias mereka dalam mencari ilmu, dan sebagainya. “Siapakah kita dibandingkan mereka?,” Itulah kesimpulannya. Karena kurang mengetahui kehidupan mereka, maka hati kita jadi keras, sombong, ujub, udah merasa beramal dan berjasa besar terhadap Islam.

Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala cairkan hati-hati kita yang mulai membeku karena Dialah yang mengendalikan hati-hati hamba-Nya.

(Sumber Rujukan: Tazkiyatun Nufus, dll)


Labels:

Sebuah Renungan Mengingat Kematian

MediaMuslim.Info – Adakah orang yang mendebat kematian dan sakaratul maut? Adakah orang yang mendebat kubur dan azabnya? Adakah orang yang mampu menunda kematiannya dari waktu yang telah ditentukan? Mengapa manusia takabur padahal kelak akan dimakan ulat? Mengapa manusia melampaui batas padahal di dalam tanah kelak akan terbujur? Mengapa berandai-andai, padahal kita mengetahui kematian akan datang secara tiba-tiba?

“Sesungguhnya kematian adalah haq, pasti terjadi, tidak dapat disangkal lagi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (QS: Qaaf: 19)

Adalah salah bila seseorang yang mengira bahwa kematian itu hanya ke-fana-an semata dan ketidak-adaan secara total yang tidak ada kehidupan, perhitungan, hari dikumpulkan, kebangkitan, surga atau neraka padanya!! Sebab andaikata demikian, tentulah tidak ada hikmah dari penciptaan dan wujud kita. Tentulah manusia semua sama saja setelah kematian dan dapat beristirahat lega; mukmin dan kafir sama, pembunuh dan terbunuh sama, si penzhalim dan yang terzhalimi sama, pelaku keta’atan dan maksiat sama, penzina dan si rajin shalat sama, pelaku perbuatan keji dan ahli takwa sama.

Pandangan tersebut hanyalah bersumber dari pemahaman kaum atheis yang mereka itu lebih buruk dari binatang sekali pun. Yang mengatakan seperti ini hanyalah orang yang telah tidak punya rasa malu dan menggelari dirinya sebagai orang yang bodoh dan ‘gila.’ (Baca: QS: At-Taghabun:7, QS: Yaasiin: 78-79)

Kematian adalah terputusnya hubungan ruh dengan badan, kemudian ruh berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dan seluruh lembaran amal ditutup, pintu taubat dan pemberian tempo pun terputus.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Alloh menerima taubat seorang hamba selama belum sekarat.” (HR: At-Turmu-dzi dan Ibn Majah, dishahihkan Al-Hakim dan Ibn Hibban)

Kematian Merupakan Musibah Paling Besar!!

Kematian merupakan musibah paling besar, karena itu Alloh Subhanahu Wa Ta’ala menamakannya dengan ‘musibah maut’ (QS: Al-Maidah:106). Bila seorang hamba ahli keta’atan didatangi maut, ia menyesal mengapa tidak menambah amalan shalihnya, sedangkan bila seorang hamba ahli maksiat didatangi maut, ia menyesali atas perbuatan melampaui batas yang dilakukannya dan berkeinginan dapat dikembalikan ke dunia lagi, sehingga dapat bertaubat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dan memulai amal shalih. Namun! Itu semua adalah mustahil dan tidak akan terjadi!! (Baca: QS: Fushshilat: 24, QS: Al-Mu’minun: 99-100)

Ingatlah Penghancur Segala Kenikmatan!!

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan agar banyak mengingat kematian. Beliau bersabda, yang artinya: “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (maut)” (HR: At-Tirmidzi, hasan menurutnya). Imam Al-Qurthubi rahimahulloh berkata, “Para ulama kita mengatakan, ucapan beliau, “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan”, merupakan ucapan ringkas tapi padat, menghimpun makna peringatan dan amat mendalam penyampaian wejangannya. Sebab, orang yang benar-benar mengingat kematian, pasti akan mengurangi kenikmatan yang dirasakannya saat itu, mencegahnya untuk bercita-cita mendapatkannya di masa yang akan datang serta membuatnya menghindar dari mengangankannya, sekalipun hal itu masih memungkinkannya.

Namun jiwa yang beku dan hati yang lalai selalu memerlukan wejangan yang lebih lama dari para penyuluh dan untaian kata-kata yang meluluhkan sebab bila tidak, sebenarnya ucapan beliau tersebut dan firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Ali ‘Imran ayat 185, (artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”) sudah cukup bagi pendengar dan pemerhati-nya.!!”

Siapa Orang Yang Paling Cerdik?

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Alloh, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR: Ath-Thabrani, dishahihkan al-Mundziri)

Faedah Mengingat Kematian
Di antara faedah mengingat kematian adalah:
  1. Mendorong diri untuk bersiap-siap menghadapi kematian sebelum datangnya.
  2. Memperpendek angan-angan untuk berlama-lama tinggal di dunia yang fana ini, karena panjang angan-angan merupakan sebab paling besar lahirnya kelalaian.
  3. Menjauhkan diri dari cinta dunia dan rela dengan yang sedikit.
  4. Menyugesti keinginan pada akhirat dan mengajak untuk berbuat ta’at.
  5. Meringankan seorang hamba dalam menghadapi cobaan dunia.
  6. Mencegah kerakusan dan ketamak-an terhadap kenikmatan duniawi.
  7. Mendorong untuk bertaubat dan mengevaluasi kesalahan masa lalu.
  8. Melunakkan hati, membuat mata menangis, memotivasi keinginan mempelajari agama dan mengusir keinginan hawa nafsu.
  9. Mengajak bersikap rendah hati (tawadhu’), tidak sombong, dan berlaku zhalim.
  10. Mendorong sikap toleransi, me-ma’afkan teman dan menerima alasan orang lain.

(Sumber Rujukan: Buletin berjudul Kafaa bilmauti Waa’izha, Dep. Ilmiah Darul Wathan)

Labels:

Dahsyatnya Proses sakaratul maut


“Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW .
Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.

Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.

Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia !”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.”

Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.

Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a’lam bis shawab.
Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an :

1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.
Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)

2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS An-Nisa 4:7 8)

3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62: 8)

4. Kematian datang secara tiba-tiba.
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)

5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)

Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut

Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)

Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)

Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim

Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.

Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.

Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93)

(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)

Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! “ Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.

Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.

Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzu bila min dzalik!

Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa

Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)

Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu”.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya.

Salah satu cara untuk meringankan Sakratulmaut.

Dalam buku Fiqh-Us-Sunnah karangan Sayyid Sabiq, disebutkan Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda: "Sadaqah meredakan kemarahan Allah dan menangkal (mengurangi) kepedihan saat maut (Sakratulmaut)."

Rasulullah (S.A.W.) juga pernah bersabda, "Sadaqah dari seorang Muslim menigkatkan (hartanya) dimasa kehidupannya. Dan juga meringankan kepedihan saat maut (Sakratulmaut), dan melauinya (sadaqah) Allah menghilangkan perasaan sombong dan egois. (Fiqh-us-Sunnah vol. 3, hal 97)

Allah berfirman: "Dan datanglah sakaratul-maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya." (Al-Qur'an 50:19)
Apakah kita akan terus lari dari Sakratulmaut atau berusaha mengurangi kesakitan tersebut dengan banyak Sedekah? Marilah kita perbanyak sedekah

Allahumma Amin..

Labels:

02 January, 2010

Mereka Menangis, Aku menghadapNYA

Kematian sesuatu yang misterius. Datangnya tak terjadwal. Kalau ia datang, semua yang selama ini dicari tak akan berharga. Harta, jabatan, keluarga tak ada yang mau menemani. Semua meninggalkan jasad yang miskin ini ditimbun dengan tanah. Tak ada yang bersedia tinggal walau sejenak bersamaku. Bahkan dalam mimpi sekalipun. Aku teringat dengan peristiwa kematian Baginda Nabi. Fatimah, putrinya tercinta tak bisa membendung sedih. Dia berlari meninggalkan para sahabat yang menguburkan jasad Sang Nabi yang mulia. "Kalian tega menimbun jasad Rasulullah dengan tanah!" katanya pada mereka sambil terisak-isak. Dia benar-benar sedih. Kesedihan membuatnya tidak lagi merasakan nikmat makan, hingga dia sakit dan meninggal setelah tiga bulan dari hari kematian Baginda Nabi. Itulah kesetiaan terbesar yang bisa dipersembahkan oleh seorang manusia, yakni kesedihan.

Amal, satu-satunya temanku yang selalu setia. Ia sahabat yang akan menemani jasad ini menjawab pertanyaan Malakikat yang diutus Tuhan. Di luar orang-orang menangisi kepergianku. Di kubur, tangisku lebih keras menghadapi setiap pertanyaan Malaikat itu. Ya Allah kenapa kebaikanku sedikit? Ooh… Seandainya dulu aku melakukan ini… Oooh… Andaikan dulu aku tidak begitu! "Ya Allah, kembalikan aku sejenak ke dunia untuk berbuat yang lebih baik. Rabb, beri aku kesempatan." Permohonanku tiada guna. Jawaban yang kudengar, "Bukankah telah datang kepadaMu hamba-hambaKu memberi peringatan?! " Tak ada lagi yang bisa kulakukan, selain menunggu waktu persidangan yang Hakimnya tak bisa disuap. Kalau pun bisa, dengan apa akan aku suap? Yang ada hanya bangkai yang dan kain kafan semata. Aku merintih karena hanya rintihan yang bisa meringankan deritaku. Anganku melayang, aku ingin menangis tapi, tak ada air mata. "Aduhai, seandainya amal buruk ini menjauh dariku, Sejauh-jauhnya!" "Aduhai seandainya aku dulu jadi tanah!"

Dahsyatnya kematian. Ia menghapus segala benci, iri dan dengki. Ibarat seorang ibu yang sangat membenci anaknya yang jahat, ketika dia tahu anaknya mati, air matanya pun tumpah ruah. Dia menyesali kebencian yang selama dia pelihara terhadap sang anak yang ternyata sangat dia cintai. Atau ibarat seorang anak yang tidak menyukai orang tuanya, ketika ajal menjemput si orang tua, sedihnya pun tak terperi. Padahal selama ini kematian orang tuanya itu dia nantikan. Sungguh, kematian sesuatu yang sangat dahsyat. Wajar, jika Nabi saw mengatakan, "Cukuplah kematian sebagai pelajaran."

Begitu juga aku. Sekarang aku bebas dari kebencian orang-orang. Tetanggaku yang dulu sangat membenciku, sekarang menangisi kepergianku. Ternyata dia juga mencintaiku. Mertuaku yang selama ini tidak pernah akur denganku dan selalu aku durhakai melolong, menangis dengan kerasnya. Ternyata dia juga mencintaiku.

Tapi, seandainya mereka tahu keadaanku saat ini, tentu tangisan mereka akan lebih keras. Aku menunggu persidangan yang maha dahsyat, yang memperhitungkan sekecil apapun kesalahanku. Walau sebesar biji zarrah. Hakim dan saksinya pun tak ada yang mau kompromi. Oooh… Seandainya!… hik..hik.. Ya Allah… Ya Tuhan… Kembalikan aku walau sejenak. Ku mohon. Aku bersumpah akan melakukan kebaikan! aku berjanji, Ya Allah." Tapi, jawaban yang ku dapat kali ini, "Jika engkau dikembalikan, niscaya engkau akan kembali melanggar laranganKu. Engkau pembohong!"

Oooh… Seandainya keluargaku tahu, mereka tidak akan meratapi diriku. Mereka tak akan mengingatku. Mereka pasti sibuk mencari keselamatan untuk diri mereka sendiri. Oooh…Seandainya mereka tahu.

oleh Kopri Nurzen Sabtu, 02/01/2010 05:19 WIB

Labels:

21 December, 2009

MASIHKAH ADA RABB DI HATI KITA

Sahabat, sekali cobalah lihat
Lihatlah rona muka mereka yang selalu segar
Dan penuh sinar

Sahabat, sekali cobalah tatap
Tataplah pada gaun yang putih lagi bersih
Berbalut sutra
Dan wangi percikan parfum Jerman

Lihatlah pada kemilau
Kilatan biru Dr Marten
Yang menginjak permadani

Dalam racik Giovanni
Digenggamnya Alkitab
Pada sisi kanan jasad

Dengan tangan yang halus dan penuh hikmat
Ditentengnya Alkitab
Menyusuri tapak demi tapak
Meniti jalan hingga bebatuan
Dan berkumpul pada sebuah misa
Lantunkan pujian bagi para dewa


Jasad yang tegak berdiri menancap bumi
Bersimbah kukuh dan harap peluh

Berteman kesegaran Edenia
Terus berteriak lantang
Untuk keagungan sang penebus dosa
Larut dalam melodi
Hanyut dalam simponi
Sejuk dalam harmoni
Ketukan Bethoven yang membuka hari
Penuh kesahajaan
Lekat dalam kecintaan
Pada grafiti dan lukisan
Pada ciptaan yang dianggapnya: tuhan

Diiringi Cerita hebat sang pendeta
Yang berteriak dahsyat dari singgasana
Putar balikkan fakta turutkan nafsunya
Orasikan ayat-ayat yang baru saja diciptanya

Hingga berguguran bulu-bulu burung gereja
Hingga berguncang seluruh jiwa
Hingga tumbang oaks di tepi sahara
Membahana pada tiap lekuk dunia

Sedangkan kita.
Tanpa peduli pada tubuh yang belum sempat kita basuh
Tanpa peduli pada hati yang belum sempat kita sentuh
Tanpa peduli pada tahmid yang mestinya menyapa subuh
Kita raih secarik sarung lusuh
Mulai beranjak pada air wudu
Dalam ketergesaan yang memburu

Karena ikamah telah berkumandang menembus kalbu
Saat kemudian sang imam
Lantunkan indahnya surah Arrahmaan
Pada rakaat yang penghabisan

Begitu sejuk
Begitu damai
Begitu mesra
Begitu cinta
Begitu iba

Dan begitu khusyuknya kita
Nikmati air liur yang kembali kita sembur
Lanjutkan indahnya kembang tidur

Oh indahnya subuh
Yang selalu dihiasi wewangian
Aroma petai jengkol dan juga bakwan

Oh indahnya subuh
Yang selalu diliputi cerita imam dan makmum yang mendengkur
Dan Alquran yang begitu mulia
Terus menangis terhimpit luka

Mushaf suci itu berdiri rapi pada rak almari
Tanpa pernah disentuh sama sekali
Mushaf suci itu hilang seinci demi seinci
Tanpa pernah dicari ke mana lembar itu pergi

Dan Alquran yang begitu mulia
Terus merintih tertimbun nestapa

Mushaf suci itu menjadi isi tas gelap dan kusam
Tertindih sapu tangan dan kaus kaki
Mushaf suci itu hampir kehilangan bentuknya
Tertumpah aqua dan tergores pena
Mushaf suci itu hampir kehilangan kesuciannya
Berteman buku dan majalah penuh cerita nista

Dan Alquran yang begitu mulia
Terus meratap terkubur lara
Mushaf suci itu hampir tiada kelihatan
Karena bersembunyi di balik punggung
Mushaf suci itu hampir tiada tertampakkan
Karena berdiri di balik sarung legam

Seekor keledai
Terus membawa kitab tebal itu kesana kemari
Berhias peluh dan daki

Seekor keledai
Ternyata tak jua mampu pahami arti

Meski dikaruniai akal
Tetap saja menjadi baghal yang begitu bebal

Sahabat
Kita bukan tidak mengerti
Kita bukan tidak pahami
Tapi karena memang cinta kita untuk-Nya

Begitu apa adanya
Dan tak ada apa-apanya
Dibanding apa-apa yang ada pada diri kita
Kita mengaku menyukai-Nya


Tapi kita lebih suka dengan apa yang dibenci-Nya
Kita mengaku mencintai-Nya

Tapi kita lebih suka dengan apa yang dijauhi-Nya
Cinta kita begitu sederhana

Tapi kita terus panjatkan dengan pinta
Kasih kita tidak ada apa-apanya

Tapi kita terus pintakan keindahan surga-Nya
Kita bukan tidak tahu.

Cara terbaik mencintai-Nya
Kita bukan tidak tahu.
Kiat terbaik membahagiakan-Nya

Tapi
Kita memang enggan melakukannya
Karena Begitu cintanya kita pada dunia

Karena
Kita tak ingin kematian itu menghampiri kita


RENUNGKANLAH WAHAI SAHABAT
--------------------------------------------------------------------------------

Labels:

Mengapa harus kita yang mengemban amanah ini ?

TAUSIYAH

Bismillahirrohmaanirrohiim
Coba renungkanlah sejenak……
Mengapa kita berada disini ?
Di lingkungan yang tak pernah kita pikirkan
Diantara manusia-manusia yang meraih ridho-Nya
Tapi,
Mengapa harus kita yang mengemban amanah ini ??!!
Padahal diluar sana banyak yang lebih baik dari kita !!!
Yang lebih berpotensi dari kita !!!
Mengapa harus kita ??!!
Karena, kita adalah manusia-manusia pilihan !!..
Sekali lagi…..
Kita adalah manusia pilihan Allah untuk melak- sanakan tugas mulia ini……
Sekarang, mari kita manfaatkan kesempatan ini……
Kesempatan untuk meraih rahmat dan kasih-Nya
Yakinlah… Allah memberi kesempatan pada kita
Karena menurut Allah,
kita mampu melaksanakan-nya……
Bersyukurlah!!!
karena kita adalah manusia pilihan -Nya ……
Luruskan niat hanya karena Allah dan
mari lakukan yang terbaik !
Terakhir, jangan sampai kesibukan kita mengkontaminasi pikiran kita
Sehingga kenikmatan spiritual kita makin hambar (Naudzubillah….)
Menjadilah tauladan sebelum berdakwah pada orang lain….

Labels:

AMANAH

AMANAH

“Sungguh Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung,
maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu. Dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh manusia itu amat zhalim dan amat bodoh” (QS.33:72)


Akhirnya manusia memberanikan diri memikul beban amanah itu. Sungguh sebuah keberanian yang spektakuler. Karena ia lahir justru ketika semua peserta alam raya lainnya-langit, bumi dan gunung-gunung-menolaknya. Tak satupun dari mereka yang mempercayai kemampuannya membawa amanah besar itu.

Ternyata hidup adalah sebuah pertanggung jawaban. Ia bukan permainan,sebab ia diberikan kepada kita atas dasar sebuah perjanjian sakral dengan Allah, Sang Pencipta kehidupan. Dan bumi ini, tempat dimana kehidupan manusia disemaikan, adalah panggung pementasan amanah.

Tiap detik yang kita lalui dilorong waktu kehidupan ini adalah jenak-jenak yang harus dipertanggung jawabkan didepan Allah. Setiap sisi ruang dan waktu harus merupakan implementasi ‘ibadah’ total kepada Allah. Sebab hanya dalam kerangka itu, semua gerak kita memperoleh makna hakiki di mata Allah.

Dalam visi seorang muslim, ibadah itu dikejawantahkan dalam dua kata: imaroh dan khilafah. Inilah amanah besar yang dibebankan kepada manusia. Dan untuk amanah itu pulalah, Allah berkenan meniupkan nafas kehidupan kedalam raga manusiawi kita.

Sesungguhnya tingkat kesadaran kita akan hakikat ini akan menentukan tingkat ‘intensitas’ kehadiran jiwa dalam menjalani hidup. Sebab, kesadaran itulah yang mengikat jiwa kita secara terus menerus dengan misi penciptaan kita. Seperti mata, jiwa yang memiliki kesadaran begini, selamanya akan terbuka membelalak menatap setiap jejak langkahnya.

Begitulah pada mulanya kesadaran amanah itu hinggap dalam jiwa dan akal Rasulullah saw. Seterusnya ia menulari jiwa dan akal sahabat-sahabat beliau. Dan dari telaga kesadaran inilah mereka meneguk mata air kecemerlangan. Sebab air telaga itulah yang memberi mereka “dorongan dan tenaga jiwa” yang tak pernah kering.

Nyaris tak pernah kita dengarkan, bahwa usia dan semua hambatan duniawi lainnya merintangi gejolak jiwa mereka untuk berkarya dan berkarya. Bahkan dalam proses berkarya, memberi dan lelah karenanya, mereka justru menemukan makna kehadiran mereka di panggung kehidupan ini, sesuatu yang memberi mereka kelezatan jiwa.

Obsesi amanah itu telah melepaskan jiwa mereka dari lingkaran ketegangan daya tarik kehidupan duniawi. Sebab sesungguhnya berkarya dan memberi itu adalah menapaki tangga menuju langit ketinggian. Dan hambatan terbesar yang akan selalu ‘memberatkan’ langkah kita adalah daya tarik dunia.

Kita tidak akan memperoleh ‘keringanan’ jiwa untuk berkarya dan memberi, kecuali ketika kita berhasil membebaskan jiwa kita dari lingkaran ketegangan daya tarik duniawi itu. Dan untuk pembebasan itu, selain faktor imaniyah lainnya, kesadaran akan amanah kehidupan ini merupakan kekuatan pembebas yang sangat kuat.

Bila suatu ketika engkau berkesempatan berdekat-dekat dengan jiwa, rasakanlah bahwa ada jenak-jenak dimana tali kecapi nuranimu bergetar menyenandungkan hakikat kehidupan ini. Dan bila engkau mendengarnya dengan telinga hatimu, engkau akan menemukan pesan menuju ketinggian.



Inthilaq,No.17/16-30 Nov.1993
post by :www.perindu-syurga.co.cc

Labels:

Aku lupa Mendoakan mu

Hari ini aku lupa mendoakanmu
Katamu kau akan ujian minggu ini

Hari ini aku lupa mendoakanmu
Katamu nilai-nilai ujianmu jeblok

Hari ini aku lupa mendoakanmu
Katamu kau mulai capek dengan segala aktifitasmu

Hari ini aku lupa mendoakanmu
Aku tak menjumpaimu di syuro sore tadi

Hari ini aku lupa mendoakanmu
Kau tak hadir dalam pertemuan pekanan karena alasan yang kurang jelas

Hari ini aku lupa mendoakanmu
Kau menolak ajakanku tuk shalat berjamaah di Masjid

Hari ini aku lupa mendoakanmu
Aku tak mendengar kabarmu lagii dan entah kenapa aku tak mau mencari
tahu


Sudahkah kita mendoakan SAUDARA kita hari ini?
“Jika seorang hamba Muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya,
maka
malaikat berkata kepadanya,’Anda juga mendapatkan yang sama (doa yang sama)”.
(Riwayat Muslim)

Toek : yang lagi menghadapi Ujian Akhir Semester, yang lagi ngerjain
Tugas Akhir, yang lagi nunggu panggilan kerja, yang lagi disibukan dengan
pekerjaannya, yang lagi berjuang dengan amanah dakwahnya, dan yang akan
segera menggenapkan dien.
“May ALLAH makes everything easy for U n blesses U all d’best things in
Ur
Life”

Selalu n selamanya,
Love U all coz of ALLAH.

Labels:

09 December, 2009

Indahnya Malam Pertama

Indahnya Malam Pertama  
Satu hal sebagai bahan renungan kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawiah semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam dan Hawa  
Justeru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Mauuut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu...mempelai sangat dimanjakan Mandipun...harus dimandikan  
Seluruh badan kita terbuka....
Tak ada sehelai benangpun menutupinya..
Tak ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan  
Bahkan lubang ? lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok kita....
Itulah jasad kita waktu itu  
Setelah dimandikan...,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih  
Kain itu ...jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan  
 Wewangian ditaburkan ke baju kita...
Bagian kepala..,badan..., dan kaki diikatkan  
Tataplah....tataplah...itulah wajah kita
Keranda pelaminan... langsung disiapkan  
Pengantin bersanding sendirian...
Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga  
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul kita
Diiringi langkah gontai seluruh keluarga  
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah kudus  
Akad nikahnya bacaan talkin...
Berwalikan liang lahat..  
Saksi - saksinya nisan-nisan..yang tlah tiba duluan  
Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan dan akhirnya.....  
Tiba masa pengantin..
Menunggu dan ditinggal sendirian...
Tuk mempertanggungjawabkan seluruh langkah kehidupan  
Malam pertama bersama KEKASIH..
Ditemani rayap - rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah kita kan memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...dan tak seorangpun yang tahu....
Tapi anehnya kita tak pernah galau ketakutan....
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima Kita sungkan sekali meneteskan air mata...
Seolah barang berharga yang sangat mahal...  
Dan Dia Kekasih itu.. Menetapkanmu ke syurga..
Atau melemparkan dirimu ke neraka.. Tentunya kita berharap menjadi ahli syurga...
Tapi....tapi ....sudah pantaskah sikap kita selama ini... Untuk disebut sebagai ahli syurga ?????????  
Wahai Sahabat...mohon maaf...jika malam itu aku tak menemanimu Bukan aku tak setia...
Bukan aku berkhianat.... Tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan
Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga  
 Aku berdo'a...semoga kita bisa chusnul chotimah sehingga jadi ahli syurga.    
> Amien....

Labels: